Penjadwalan produksi adalah tantangan terbesar kedua setelah manajemen persediaan dalam industri manufaktur, menurut laporan industri Wherefour (2026).
Meski begitu, penjadwalan produksi tidak bisa diabaikan karena menjadi kunci bagi perusahaan manufaktur yang ingin bisa selalu memenuhi permintaan pelanggan.
Penjadwalan membantu memastikan bahwa produksi berjalan lancar dengan mengoordinasikan ketersediaan bahan baku, penempatan tenaga kerja, dan waktu kerja mesin melalui urutan tugas dan proses yang diperlukan untuk membuat produk dalam jangka waktu tertentu.
Artikel ini membahas pengertian, manfaat, jenis, dan metode penjadwalan produksi, termasuk contoh algoritma Johnson.
Pengertian Penjadwalan Produksi

Penjadwalan produksi adalah proses menentukan urutan dan waktu pelaksanaan pekerjaan produksi dengan mempertimbangkan kapasitas mesin, tenaga kerja, ketersediaan bahan baku, serta tenggat penyelesaian. Dalam bahasa Inggris, proses ini dikenal sebagai production scheduling.
Tujuannya adalah melainkan menentukan kapan suatu pekerjaan dimulai, sumber daya yang digunakan, dan kapan pekerjaan tersebut harus selesai.
Dengan adanya jadwal, perusahaan dapat mengoordinasikan aktivitas produksi dan mengurangi waktu tunggu antar tahap.
Sebagai contoh, produsen furnitur perlu melewati tahap pemotongan kayu, perakitan, pengamplasan, dan pengecatan. Dengan jadwal, mereka bisa menentukan urutan pengerjaan setiap pesanan agar bagian pengecatan tidak menunggu terlalu lama atau menerima lebih banyak pekerjaan daripada kapasitasnya.
Mereka juga bisa menyesuaikan jadwal juga ketika ada bahan baku yang terlambat atau pesanan mendesak yang masuk.
Penjadwalan produksi tidak sama dengan perencanaan produksi.
- Perencanaan produksi: Menentukan apa yang perlu diproduksi, berapa jumlahnya, dan sumber daya yang dibutuhkan.
- Penjadwalan produksi: Mengatur kapan dan dalam urutan apa pekerjaan tersebut dilaksanakan.
Misalnya, perencanaan menetapkan target produksi 1.000 unit dalam satu bulan. Penjadwalan kemudian membagi target tersebut menjadi pekerjaan harian atau per giliran kerja, termasuk menentukan penggunaan mesin dan urutan pesanan. Dengan demikian, jadwal produksi menerjemahkan rencana menjadi aktivitas operasional yang lebih terperinci.
Baca juga: 15 Cara Menghemat Biaya Produksi dalam Manufaktur
Apa Tujuan dan Manfaat Penjadwalan Produksi?
Penjadwalan produksi membantu perusahaan menyelaraskan permintaan pelanggan dengan kapasitas operasional yang tersedia. Jadwal yang realistis membuat perusahaan lebih mudah mengatur aliran pekerjaan, mengantisipasi hambatan, dan mengendalikan biaya produksi.
Berikut tujuan dan manfaat utamanya:
- Memenuhi tenggat pesanan. Perusahaan dapat menentukan prioritas berdasarkan tanggal pengiriman sehingga pesanan penting tidak terlambat akibat antrean pekerjaan yang tidak teratur.
- Meningkatkan pemanfaatan mesin dan tenaga kerja. Pembagian pekerjaan yang tepat membantu mengurangi waktu menganggur sekaligus mencegah penumpukan tugas pada mesin atau karyawan tertentu.
- Mengendalikan biaya produksi. Jadwal yang baik dapat mengurangi kebutuhan lembur mendadak, waktu tunggu, dan biaya akibat pekerjaan yang harus diulang karena koordinasi yang buruk.
- Mengoptimalkan penggunaan bahan baku. Perusahaan dapat menyelaraskan jadwal pekerjaan dengan ketersediaan material sehingga produksi tidak terhenti karena bahan belum siap.
- Mengurangi persediaan barang dalam proses. Pengaturan urutan pekerjaan membantu mencegah produk setengah jadi menumpuk terlalu lama di antara tahapan produksi.
- Memudahkan pemantauan kinerja. Dengan membandingkan jadwal dan realisasi, manajer dapat mengetahui sumber keterlambatan dan memperbaiki proses yang kurang efisien.
Manfaat tersebut saling berkaitan. Sebagai contoh, ketika perusahaan mengurangi waktu tunggu antarmesin, kapasitas produksi dapat digunakan lebih optimal tanpa harus langsung membeli mesin tambahan.
Namun, hasilnya tetap bergantung pada ketepatan data, kondisi peralatan, ketersediaan material, dan kemampuan perusahaan menyesuaikan jadwal saat terjadi perubahan.
Baca Juga: Cara Melakukan Optimasi Produksi dalam Manufaktur
Jenis Penjadwalan Produksi Berdasarkan Horizon Waktu

Penjadwalan produksi dapat dilihat berdasarkan horizon waktu, mulai dari keputusan jangka panjang hingga pengaturan pekerjaan harian. Pembagian ini membantu perusahaan menghubungkan target produksi dengan pelaksanaan di lantai produksi.
Batas waktunya tidak selalu sama karena bergantung pada industri, waktu pengadaan material, dan karakteristik produk.
1. Jangka panjang
Horizon jangka panjang biasanya berfokus pada kebutuhan kapasitas dan arah produksi dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun.
Contohnya, perusahaan memperkirakan kebutuhan kapasitas mesin untuk memenuhi pertumbuhan permintaan. Pada tahap ini, pembahasannya lebih dekat dengan perencanaan kapasitas daripada penjadwalan pekerjaan terperinci.
2. Jangka menengah
Horizon menengah menghubungkan rencana produksi dengan kebutuhan produk dan kapasitas untuk beberapa minggu atau bulan. Salah satu alat pentingnya adalah Master Production Schedule (MPS), yaitu jadwal induk yang merinci produk, jumlah, dan periode produksi. MPS menjadi penghubung antara rencana agregat dan kebutuhan operasional yang lebih detail.
3. Jangka pendek
Horizon pendek berfokus pada pelaksanaan harian atau per giliran kerja. Perusahaan menentukan urutan pesanan, alokasi mesin, waktu mulai dan selesai, serta prioritas pekerjaan. Pada tingkat ini, jadwal tenaga kerja juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap proses.
Ketiga horizon tersebut perlu saling terhubung. Perubahan kapasitas jangka panjang dapat memengaruhi jadwal induk, sedangkan keterlambatan material hari ini membuat perusahaan harus menyusun ulang jadwal jangka pendek.
Baca Juga: Memahami Dispatching dan Jenisnya dalam Proses Produksi
Apa Saja Aspek yang Perlu Dipertimbangkan dalam Penjadwalan Produksi?
Sebelum menyusun jadwal, perusahaan perlu memahami 5 aspek produksi: kapasitas mesin, lead time, ketersediaan material, bottleneck, dan Bills of Material.
- Kapasitas mesin: pastikan waktu operasi yang tersedia cukup untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai target, termasuk mempertimbangkan perawatan dan waktu persiapan.
- Lead time: perhitungkan waktu sejak proses atau pemesanan dimulai hingga hasil atau material siap digunakan.
- Ketersediaan material: pastikan bahan baku tersedia saat dibutuhkan agar pekerjaan tidak tertunda di tengah proses.
- Bottleneck: identifikasi tahapan yang kapasitasnya paling membatasi aliran produksi. Menambah pekerjaan pada tahap ini tanpa memperbaiki kapasitasnya justru dapat memperpanjang antrean.
- Bill of Materials (BOM): gunakan daftar bahan dan komponen yang dibutuhkan untuk setiap produk agar kebutuhan material dapat dihitung sesuai rencana produksi.
Kelima aspek tersebut perlu dinilai bersama. Jadwal yang terlihat efisien di atas kertas belum tentu dapat dijalankan jika mesin mengalami gangguan atau komponen utama belum tersedia.
Baca Juga: Lean Management: Pengertian, Manfaat, Prinsip Dasar, dan Metodenya
Apa Saja Metode Penjadwalan Produksi?
Ada 4 metode penjadwalan produksi, yaitu metode aturan prioritas, penjadwalan berbasis waktu dan permintaan,
Pilihlah metode yang tepat sesuai jumlah mesin, karakteristik pekerjaan, dan prioritas perusahaan.
1. Aturan Prioritas
Aturan prioritas menentukan urutan pekerjaan berdasarkan kriteria tertentu.
- FCFS (First Come, First Served): Pekerjaan diproses sesuai urutan kedatangan.
- SJF (Shortest Job First): Pekerjaan dengan waktu pengerjaan paling singkat didahulukan.
- EDD (Earliest Due Date): pekerjaan dengan tenggat waktu paling dekat diprioritaskan.
2. Penjadwalan Berbasis Waktu dan Permintaan
Penjadwalan berbasis waktu membagi pekerjaan berdasarkan jam, hari, atau giliran kerja. Sementara itu, penjadwalan berbasis permintaan menyesuaikan produksi dengan pesanan atau perkiraan kebutuhan pasar.
Pendekatan Just-in-Time (JIT) juga dapat diterapkan untuk menyelaraskan produksi dengan permintaan sehingga persediaan berlebih bisa ditekan. Namun, pendekatan ini membutuhkan koordinasi yang baik dengan pemasok dan proses produksi.
3. Algoritma Johnson
Algoritma Johnson digunakan untuk menentukan urutan pekerjaan yang melewati dua mesin secara berurutan. Tujuannya adalah mengurangi total waktu penyelesaian seluruh pekerjaan (makespan) dalam kondisi tertentu.
Metode ini cocok untuk proses produksi yang memiliki alur tetap melalui dua mesin. Untuk contoh penerapannya, perusahaan dapat membandingkan waktu pengerjaan setiap pekerjaan pada mesin pertama dan kedua sebelum menentukan urutan produksi.
Misalnya, pada proses produksi komponen body mobil yang meliputi urut-urutan proses yang cukup panjang, algoritma Johnson berhasil membuat proses menjadi 3.27% lebih efisien.
4. Metode Optimasi Lanjutan
Untuk proses produksi dengan banyak mesin atau kendala yang kompleks, perusahaan dapat menggunakan metode optimasi, seperti linear programming, branch and bound, dan algoritma CDS. Metode-metode ini membantu menyusun jadwal berdasarkan keterbatasan kapasitas, waktu pengerjaan, dan tujuan operasional tertentu.
Baca Juga: Faktor yang Memengaruhi Manajemen Produksi: Pembahasan Lengkap
Contoh Penjadwalan Produksi

Misalnya, sebuah pabrik memiliki empat pesanan yang harus dikerjakan menggunakan satu mesin. Setiap pesanan membutuhkan waktu pengerjaan berbeda dan memiliki tenggat penyelesaian masing-masing.
Perusahaan dapat menggunakan metode FCFS, SJF, atau EDD untuk menentukan urutan pengerjaan. Agar perbandingannya adil, contoh berikut mengasumsikan semua pesanan sudah tersedia sejak awal, mesin hanya memproses satu pesanan pada satu waktu, dan tidak ada waktu tambahan untuk pergantian pekerjaan.
| Pesanan | Waktu pengerjaan | Tenggat penyelesaian |
|---|---|---|
| A | 4 hari | Hari ke-8 |
| B | 2 hari | Hari ke-7 |
| C | 6 hari | Hari ke-15 |
| D | 3 hari | Hari ke-6 |
Berdasarkan data tersebut, berikut perbandingan jadwal menggunakan tiga metode penjadwalan produksi.
| Metode | Urutan produksi | Rata-rata waktu penyelesaian |
|---|---|---|
| FCFS | A → B → C → D | 9,25 hari |
| SJF | B → D → A → C | 7,75 hari |
| EDD | D → B → A → C | 8 hari |
Cara membaca hasilnya:
- FCFS: Pesanan dikerjakan berdasarkan urutan kedatangan. Total waktu penyelesaian masing-masing pesanan adalah 4, 6, 12, dan 15 hari. Rata-ratanya menjadi 9,25 hari.
- SJF: Pesanan dengan waktu pengerjaan terpendek didahulukan. Urutan ini menghasilkan rata-rata waktu penyelesaian 7,75 hari, paling rendah di antara ketiga metode pada contoh ini.
- EDD: Pesanan dengan tenggat terdekat dikerjakan lebih dahulu. Urutan ini menghasilkan rata-rata waktu penyelesaian 8 hari dan membantu perusahaan memprioritaskan pesanan yang lebih mendesak.
Contoh ini menunjukkan bahwa pemilihan metode dapat memengaruhi efisiensi waktu produksi. Namun, metode dengan rata-rata waktu penyelesaian paling rendah belum tentu paling baik untuk semua kondisi. Jika prioritas utama perusahaan adalah memenuhi tenggat pelanggan, EDD biasanya lebih baik daripada SJF.
Baca Juga: Apa Itu Proses Manufaktur? Jenis, Hambatan, dan Cara Mengatasi
Bagaimana Cara Memilih Metode Penjadwalan yang Tepat
Sebaiknya, pilih metode penjadwalan produksi berdasarkan karakteristik pekerjaan, kapasitas produksi, dan prioritas bisnis. Metode yang efektif untuk bengkel dengan satu mesin belum tentu sesuai untuk pabrik dengan beberapa tahapan produksi.
| Kondisi bisnis | Metode yang dapat dipertimbangkan | Alasan |
|---|---|---|
| Pekerjaan diproses berdasarkan urutan pesanan masuk | FCFS | Sederhana dan mudah diterapkan ketika harus memperhatikan urutan kedatangan pesanan |
| Banyak pekerjaan dengan durasi berbeda dan fokus pada waktu penyelesaian rata-rata | SJF | Memprioritaskan pekerjaan yang singkat agar tidak terlalu lama mengantre. |
| Pesanan memiliki tenggat yang berbeda-beda | EDD | Mendahulukan pekerjaan dengan tenggat paling dekat. |
| Produksi melewati dua mesin secara berurutan | Algoritma Johnson | Membantu menentukan urutan pekerjaan untuk meminimalkan makespan dalam kondisi yang sesuai. |
| Produksi melewati beberapa mesin dengan banyak kendala | CDS atau metode optimasi lain | Dapat membantu mengevaluasi urutan pekerjaan yang lebih efisien pada sistem yang kompleks. |
Sebelum menetapkan metode, perusahaan juga perlu memeriksa keakuratan waktu proses, kesiapan material, dan kapasitas mesin. Jika kondisi berubah, jadwal perlu dievaluasi kembali.
Baca Juga: Proses Produksi: Pengertian, Elemen, Jenis, dan Tahapannya
Apa Saja Tantangan dalam Penjadwalan Produksi?
Penjadwalan produksi tidak selalu berjalan sesuai rencana. Maka dari itu, perusahaan perlu mengantisipasi perubahan kondisi yang dapat mengganggu urutan pekerjaan dan target penyelesaian, seperti:
- Pesanan mendadak. Permintaan pelanggan yang harus segera dipenuhi dapat mengubah prioritas produksi dan menunda pesanan lain.
- Mesin rusak. Kerusakan mesin membuat pekerjaan tertunda, terutama jika tidak ada mesin pengganti untuk menjalankan proses yang sama. Penyebabnya bisa karena pemeliharaan mesin tidak dilakukan secara proaktif, tapi baru menunggu mesin bermasalah dulu baru mengambil tindakan. Studi MPI manufaktur menemukan bahwa rata-rata 35% pekerjaan pemeliharaan mesin dilakukan secara reaktif.
- Keterlambatan material. Bahan baku yang belum tiba dapat menghentikan produksi meskipun tenaga kerja dan mesin sudah siap.
- Perubahan permintaan. Lonjakan atau penurunan pesanan membuat jadwal yang disusun berdasarkan perkiraan sebelumnya tidak lagi sesuai.
- Ketidakseimbangan kapasitas. Satu bagian produksi bisa mengalami penumpukan pekerjaan ketika bagian lain justru menganggur.
- Perkiraan waktu yang meleset. Pekerjaan yang membutuhkan waktu lebih lama dari estimasi dapat menggeser jadwal produksi berikutnya.
Untuk mengatasinya, perusahaan perlu memantau progres produksi secara berkala, memperbarui jadwal berdasarkan kondisi aktual, dan menyiapkan alternatif ketika terjadi gangguan.
Baca Juga: Total Productive Maintenance (TPM): Pengertian, Elemen, dan Implementasinya
Kesimpulan
Penjadwalan produksi membantu bisnis manufaktur mengatur urutan pekerjaan, mengoptimalkan penggunaan mesin dan tenaga kerja, serta memenuhi tenggat pesanan.
Pemilihan metode seperti FCFS, SJF, EDD, atau algoritma Johnson perlu disesuaikan dengan alur produksi dan prioritas bisnis. Jadwal yang tepat juga membantu mengendalikan persediaan, mengurangi penumpukan barang dalam proses, dan menekan biaya yang berpotensi meningkatkan HPP.
Agar keputusan produksi lebih akurat, dukung perusahaan Anda dengan pencatatan persediaan dan biaya yang rapi. Kledo adalah software akuntansi untuk manufaktur yang membantu bisnis mengelola pencatatan keuangan dan memantau laporan bisnis sehingga Anda bisa mengevaluasi biaya produksi dengan lebih mudah.
Coba Kledo secara gratis untuk mendukung pengelolaan keuangan bisnis Anda.
- Contoh Analisis Porter Five Forces pada Bisnis - 22 Oktober 2026
- Pengertian Cost Control, Manfaat, dan Cara Menerapkannya - 16 Oktober 2026
- Mengenal Berbagai Jenis Faktor Produksi dan Cara Mengoptimalkannya - 16 Oktober 2026
