Teknisi Akuntansi: Kualifikasi dan Perbedaannya dengan Akuntan

teknisi akuntansi banner

Teknisi akuntansi adalah tenaga profesional yang menjalankan proses pencatatan, pengolahan, dan penyusunan informasi keuangan sesuai standar akuntansi yang berlaku.

Di era digital, peran mereka tetap relevan meskipun banyak perusahaan menggunakan software akuntansi dan sistem Enterprise Resource Planning (ERP).

Teknologi membantu mengotomatiskan pekerjaan rutin, tetapi mereka tetap bertanggung jawab memastikan data yang diinput akurat, melakukan rekonsiliasi, memverifikasi transaksi, serta menyusun laporan keuangan yang sesuai dengan ketentuan.

Artikel ini membahas secara menyeluruh apa itu teknisi akuntansi, apa saja tugas dan tanggung jawabnya, perbedaannya dengan akuntan, kualifikasi, dan cara menggapai karir di bidang ini.

Apa Itu Teknisi Akuntansi?

Berdasarkan PMK No. 25 Tahun 2014 Pasal 4 Ayat 2d, teknisi akuntansi merupakan profesi pendukung akuntan.

Agar diakui secara hukum dan dapat memberikan jasa pembukuan, mereka wajib memiliki sertifikat teknisi akuntansi level 6 berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

Tugas teknisi akuntansi adalah mengerjakan tugas di area akuntansi, keuangan, dan perpajakan untuk membantu akuntan.

Mereka bisa bekerja di bawah pengawasan akuntan dan bertanggung jawab untuk memperbarui, mengecek, dan menganalisis laporan keuangan yang nantinya akan akuntan gunakan.

Seorang teknisi akuntansi bisa bekerja di sebuah peruahaan sebagai bagian dari tim in-house atau bekerja di firma akuntansi.

Tugas mereka meliput:

  • Memperbarui data keuangan laporan
  • Mencatat pemasukan, pengeluaran, dan mengontrol anggaran
  • Meninjau data dan memastikan keakuratannya
  • Bekerja dengan klien untuk mempersiapkan anggaran, akun, dan dokumen keuangan lain untuk mereka
  • Mengerjakan tugas administrasi seperti payroll.
kledo banner 3

Baca Juga: 10 Kompetensi Profesional Akuntan dan Cara Mengembangkannya

Apa Perbedaan Teknisi Akuntansi dan Akuntan?

Teknisi akuntansi dan akuntan sama-sama bekerja di bidang keuangan, tetapi keduanya memiliki ruang lingkup pekerjaan, tingkat tanggung jawab, serta kualifikasi yang berbeda.

Teknisi akuntansi lebih berfokus pada pelaksanaan proses akuntansi sehari-hari, sedangkan akuntan bertanggung jawab melakukan analisis, memberikan rekomendasi strategis, dan mengawasi fungsi akuntansi secara menyeluruh.

AspekTeknisi AkuntansiAkuntan
Fokus pekerjaanMenjalankan proses akuntansi operasional dan administrasi keuangan.Mengelola, menganalisis, dan mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan.
Tanggung jawab utamaMencatat transaksi, menyusun jurnal, melakukan pembukuan, rekonsiliasi, membantu penyusunan laporan keuangan, serta mendukung administrasi pajak.Menyusun dan menganalisis laporan keuangan, menyusun anggaran, mengawasi proses akuntansi, memberikan rekomendasi bisnis, mengelola risiko, dan memastikan kepatuhan terhadap standar akuntansi.
Tingkat analisisBerfokus pada pencatatan dan pengolahan data keuangan.Berfokus pada analisis, evaluasi, interpretasi data, dan pengambilan keputusan keuangan.
PengawasanBekerja di bawah arahan accounting supervisor, senior accountant, atau accounting manager.Dapat memimpin tim akuntansi dan mengawasi pekerjaan teknisi akuntansi maupun accounting staff.
PendidikanUmumnya lulusan SMK Akuntansi, D3 Akuntansi, atau S1 Akuntansi.Umumnya minimal lulusan S1 Akuntansi atau bidang terkait.
PelatihanBanyak memperoleh pelatihan teknis saat bekerja (on-the-job training).Mengembangkan kompetensi melalui pengalaman kerja, pelatihan profesional, dan pendidikan lanjutan.
SertifikasiDapat memiliki Sertifikasi Teknisi Akuntansi, BNSP, atau sertifikasi software akuntansi.Dapat memiliki sertifikasi profesional seperti CPA (Certified Public Accountant), CFA (Chartered Financial Analyst), CIA (Certified Internal Auditor), atau sertifikasi profesi lain sesuai spesialisasi.
Jenjang karierJunior Accounting Staff, Accounting Staff, Senior Accounting Staff, Accounting Supervisor.Senior Accountant, Accounting Manager, Finance Manager, Financial Controller, Chief Financial Officer (CFO).

Perbedaan Tanggung Jawab

Perbedaan paling utama kedua profesi ini terletak pada jenis pekerjaan yang dilakukan.

  • Teknisi akuntansi: Menangani pekerjaan operasional yang berkaitan dengan pencatatan transaksi dan pengelolaan data keuangan. Tugasnya memastikan seluruh transaksi tercatat secara akurat dan siap digunakan dalam proses pelaporan.
    Contoh:
    • Menyusun jurnal akuntansi.
    • Mencatat penerimaan dan pengeluaran kas.
    • Melakukan pembukuan.
    • Menyiapkan laporan keuangan dasar.
    • Membantu penyusunan laporan pajak.
  • Akuntan: Tanggung jawabnya lebih luas karena tidak hanya mengolah data keuangan, tetapi juga menganalisis dan menggunakannya sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis.
    Contoh:
    • Menyusun dan mengevaluasi laporan keuangan.
    • Menganalisis kondisi keuangan perusahaan.
    • Memberikan rekomendasi untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas.
    • Menyusun anggaran perusahaan.
    • Melakukan analisis risiko investasi dan keuangan.
    • Mengawasi pekerjaan teknisi akuntansi dan anggota tim akuntansi lainnya.

Pendidikan dan pelatihan

Jalur pendidikan untuk kedua profesi juga berbeda. Teknisi akuntansi dapat memulai karier setelah menyelesaikan pendidikan di SMK Akuntansi, D3 Akuntansi, atau S1 Akuntansi. Banyak perusahaan juga memberikan pelatihan di tempat kerja (on-the-job training) agar karyawan memahami prosedur dan sistem akuntansi yang digunakan.

Sementara itu, akuntan umumnya memerlukan gelar Sarjana Akuntansi (S1) atau bidang terkait. Untuk meningkatkan kompetensi dan peluang karier, akuntan sering mengikuti pendidikan profesional, pelatihan khusus, serta memperoleh pengalaman kerja sebelum menduduki posisi yang lebih tinggi.

Perbedaan Sertifikasi

Sertifikasi bukan merupakan persyaratan wajib, tetapi dapat meningkatkan kredibilitas dan daya saing di dunia kerja.

Teknisi akuntansi dapat mengikuti sertifikasi seperti:

  • Sertifikasi Teknisi Akuntansi.
  • Sertifikasi BNSP melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).
  • Sertifikasi software akuntansi.
  • Sertifikasi perpajakan seperti Brevet Pajak.

Akuntan memiliki pilihan sertifikasi profesional yang lebih luas, antara lain:

  • Certified Public Accountant (CPA).
  • Chartered Financial Analyst (CFA).
  • Certified Internal Auditor (CIA).

Baca Juga: Cara Menjadi Akuntan Pajak, Tugas, dan Kualifikasinya

Apa Kualifikasi untuk Menjadi Teknisi Akuntansi?

Untuk menjadi teknisi akuntansi, Anda perlu memenuhi beberapa kualifikasi yang umumnya ditetapkan oleh perusahaan.

Kualifikasi tersebut mencakup latar belakang pendidikan, kemampuan teknis, pengalaman kerja, serta sertifikasi profesi yang membuktikan kompetensi di bidang akuntansi.

Meskipun setiap perusahaan memiliki persyaratan yang berbeda, sebagian besar mencari kandidat yang memahami prinsip akuntansi dan mampu mengoperasikan software akuntansi.

Kualifikasi pendidikan

Biasanya, perusahaan mempersyaratkan paling tidak lulusan SMK Akuntansi, D3 Akuntansi, D4 Akuntansi, dan S4 Akuntansi.

Semakin tinggi kualifikasi pendidikan, semakin luas juga peluang karirnya.

Misalnya, pendidikan S1 membuka peluang sebagai teknisi akuntansi maupun untuk berkembang menjadi supervisor, analis keuangan, auditor, atau manajer akuntansi setelah memiliki pengalaman kerja.

Pengalaman kerja

Pengalaman kerja menjadi nilai tambah dalam proses rekrutmen karena menunjukkan bahwa kandidat telah menerapkan teori akuntansi dalam situasi nyata.

Perusahaan umumnya mempertimbangkan pengalaman pada bidang berikut:

  • Pembukuan dan pencatatan transaksi.
  • Penyusunan laporan keuangan.
  • Rekonsiliasi bank.
  • Pengelolaan kas, piutang, dan utang.
  • Perhitungan pajak dasar.
  • Penggunaan software akuntansi.

Bagi fresh graduate, pengalaman bisa didapatkan dari magang, praktik kerja lapangan (PKL), proyek kampus, atau pengalaman menggunakan aplikasi akuntansi.

Sertifikasi

Sertifikasi profesi menunjukkan bahwa seseorang telah memenuhi standar kompetensi tertentu di bidang akuntansi.

Beberapa sertifikasi yang relevan meliputi:

SertifikasiPenyelenggaraManfaat
Sertifikasi Teknisi AkuntansiLSP berlisensi BNSPMembuktikan kompetensi sesuai SKKNI.
Sertifikasi BNSP Bidang AkuntansiBNSP melalui LSPMeningkatkan daya saing di dunia kerja.
Brevet Pajak A dan BLembaga pelatihan perpajakanMenambah kompetensi dalam administrasi perpajakan.
Sertifikasi Software AkuntansiVendor atau lembaga pelatihanMembuktikan kemampuan menggunakan aplikasi akuntansi.

Baca Juga: 10 Kursus Akuntansi Online yang Cocok bagi Calon Akuntan

Bagaimana Cara Menjadi Teknisi Akuntansi?

Untuk menjadi teknisi akuntansi, Anda perlu pendidikan formal, keterampilan teknis, pengalaman praktis, dan pengembangan kompetensi.

Berikut merupakan jalan yang bisa ditempuh untuk menjadi teknisi akuntansi:

1. Menempuh pendidikan

Langkah pertama adalah menempuh pendidikan yang relevan di bidang akuntansi. Banyak perusahaan menerima lulusan SMK Akuntansi untuk posisi entry-level, sementara lulusan D3 atau S1 Akuntansi memiliki peluang yang lebih luas untuk mengembangkan karier.

Selama masa pendidikan, pelajari materi sepertid asar-dasar akuntansi, pembukuan, penyusunan jurnal, buku besar, laporan keuangan, perpajakan dasar, dan sistem informasi akuntansi.

2. Menguasai dasar akuntansi

Seorang teknisi akuntansi perlu memahami siklus akuntansi agar dapat mengelola transaksi keuangan dengan benar.

Kompetensi dasar yang perlu dikuasai meliputi:

  • Menganalisis transaksi keuangan.
  • Menyusun jurnal umum dan jurnal penyesuaian.
  • Melakukan posting ke buku besar.
  • Menyusun neraca saldo.
  • Membuat laporan laba rugi, neraca, dan laporan arus kas.
  • Melakukan rekonsiliasi bank.
  • Memahami prinsip dasar PSAK dan siklus akuntansi.

3. Menguasai software akuntansi

Sebagian besar perusahaan menggunakan software akuntansi untuk mempercepat proses pencatatan dan pelaporan keuangan. Oleh karena itu, kemampuan mengoperasikan aplikasi akuntansi menjadi salah satu kompetensi yang paling dicari oleh perusahaan.

Selain memahami fitur dasar, pelajari cara membuat laporan keuangan, mengelola buku besar, mencatat transaksi, serta menyusun laporan pajak menggunakan aplikasi tersebut.

Baca Juga: 10 Daftar Channel Youtube Akuntansi untuk Calon Akuntan

4. Mengikuti sertifikasi

Sertifikasi profesi dapat meningkatkan kredibilitas dan menunjukkan bahwa kompetensi yang dimiliki telah memenuhi standar yang diakui industri.

Beberapa sertifikasi yang relevan bagi teknisi akuntansi meliputi:

  • Sertifikasi Teknisi Akuntansi dari LSP berlisensi BNSP.
  • Sertifikasi berbasis SKKNI bidang akuntansi.
  • Brevet Pajak A dan B.
  • Sertifikasi penggunaan software akuntansi.

Ada 5 kualifikasi teknisi akuntansi yang bisa didapatkan dari tes, yaitu:

  • Kualifikasi II: Teknisi Akuntansi Yunior
  • Kualifikasi III: Teknisi Akuntansi Pratama
  • Kualifikasi IV: Teknisi Akuntansi Muda
  • Kualifikasi V: Teknisi Akuntansi Madya
  • Kualifikasi VI: Teknisi Akuntansi Ahli

5. Mengikuti magang

Program magang memberi Anda kesempatan untuk menerapkan teori akuntansi dalam lingkungan kerja nyata.

Selain menambah pengalaman, magang juga membantu memahami prosedur operasional perusahaan dan penggunaan sistem akuntansi yang diterapkan.

Pengalaman magang bisa membekali Anda dengan kesiapan sebelum memasuki dunia kerja.

6. Membangun portofolio

Portofolio dapat menunjukkan kemampuan teknis kepada calon pemberi kerja. Portofolio tidak harus berupa pengalaman kerja formal, tetapi dapat berisi hasil latihan, proyek akademik, atau studi kasus yang relevan.

Contoh isi portofolio meliputi:

  • Contoh jurnal umum.
  • Laporan keuangan yang disusun secara mandiri.
  • Hasil rekonsiliasi bank.
  • Studi kasus pembukuan.
  • Sertifikat pelatihan dan seminar.
  • Sertifikat software akuntansi.
  • Sertifikat profesi.

Portofolio yang tersusun dengan baik membantu perusahaan menilai kemampuan praktis seorang kandidat.

Lowongan pekerjaan dapat ditemukan melalui platform rekrutmen, situs resmi perusahaan, job fair kampus, maupun networking.

Setelah diterima bekerja, terus tingkatkan kompetensi melalui pelatihan, sertifikasi lanjutan, dan pengalaman kerja agar memiliki peluang untuk naik ke posisi seperti Senior Accounting Staff, Accounting Supervisor, hingga Accounting Manager.

Baca Juga: Mau Kerja Part Time Akuntan? Pahami dulu Aturan dan Jenis Kerjanya

Kesimpulan

Teknisi akuntansi adalah profesi pendukung akuntan yang bertugas memproses data transaksi, mencatat keuangan, dan menyusun laporan guna membantu akuntan.

Berbeda dengan akuntan yang bertugas menganalisis secara mendalam, mereka lebih banyak mengerjakan operasional harian seperti pengelolaan buku besar, perpajakan, dan verifikasi dokumen.

Untuk menjalankan tugas tersebut secara efektif, seorang teknisi akuntansi tidak hanya membutuhkan pemahaman akuntansi yang baik, tetapi juga kemampuan menggunakan software akuntansi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Salah satu software akuntansi yang banyak digunakan oleh bisnis di Indonesia adalah Kledo. Kledo membantu mengotomatiskan berbagai proses akuntansi, mulai dari pencatatan transaksi, pembuatan invoice, pengelolaan persediaan, rekonsiliasi bank, hingga penyusunan laporan keuangan secara real-time.

Jika Anda ingin meningkatkan efisiensi proses akuntansi di perusahaan atau mempermudah pekerjaan, coba Kledo melalui uji coba gratis dan mengeksplorasi berbagai fitur yang disediakan sesuai kebutuhan bisnis.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

four × four =