Nilai persediaan awal tahun adalah salah satu metrik dalam manajemen persediaan yang sangat penting.
Metrik ini membantu Anda mengevaluasi permintaan, memantau bagaimana Anda mengelola persediaan, serta merencanakan pengurangan pajak.
Oleh karena itu, kemampuan untuk menghitung persediaan awal dan memahami apa arti angka ini bagi kesehatan bisnis Anda sangatlah penting.
Pelajari lebih lanjut tentang persediaan awal, cara menggunakan rumus persediaan awal, serta apa artinya bagi kondisi keuangan bisnis Anda dalam pembahasan ini.
Apa Itu Nilai Persediaan Awal Tahun?
Nilai persediaan awal tahun atau beginning/opening inventory adalah nilai dari seluruh persediaan yang dimiliki bisnis pada awal periode akuntansi.
Nilai ini mencerminkan seluruh barang yang bisa bisnis gunakan untuk menghasilkan pendapatan.
Dengan menghitung persediaan awal, Anda dapat memahami posisi awal persediaan dalam suatu periode akuntansi. Persediaan awal juga dikenal sebagai opening inventory.
Persediaan awal diklasifikasikan sebagai aset lancar dan merupakan bagian penting dalam akuntansi persediaan.
Baca Juga: Metode Penilaian Persediaan: Jenis Dan Tips Memilihnya
Kapan Anda Menggunakan Persediaan Awal?
Anda perlu menghitung nilai persediaan awal tahun pada awal periode akuntansi. Di sini, Anda akan membandingkan nilai beginning inventory dari satu periode ke periode lainnya.
Dari perbandingan ini, Anda akan tahu kinerja bisnis Anda seperti inventory turnover/perputaran persediaan dan juga nilai persediaannya.
Ada beberapa alasan mengapa mengetahui nilai persediaan awal sangat bermanfaat bagi bisnis Anda, di antaranya:
- Mencatat perubahan permintaan: Misalnya, jumlah persediaan awal yang lebih rendah daripada bulan sebelumnya bisa menunjukkan peningkatan penjualan selama periode tersebut. Sebaliknya, persediaan awal yang lebih tinggi mungkin menunjukkan penurunan penjualan.
- Mengidentifikasi masalah dalam pengelolaan persediaan: Jika barang sisa lebih banyak dari periode sebelumnya, mungkin ada masalah di proses manajemen persediaan. Sebaliknya, jika barang sisa terlalu sedikit atau bahkan tidak ada, mungkin Anda terlalu banyak memesan pada periode sebelumnya.
- Menyoroti masalah rantai pasok: Masalah rantai pasok juga bisa mengakibatkan jumlah stok yang lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya. Misalnya, pemasok tidak memenuhi pesanan dengan benar.
- Mempersiapkan pelaporan pajak: Jika Anda bisa memperkirakan rata-rata persediaan di akhir periode akuntansi dan kebutuhan pada periode berikutnya, Anda bisa membeli persediaan lebih awal. Ini bisa menurunkan penghasilan kena pajak, sehingga mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar.
- Memantau shrinkage (penyusutan persediaan): Shrinkage terjadi ketika ada selisih antara jumlah persediaan yang seharusnya tercatat dengan yang benar-benar tercatat. Bisa terjadi karena kesalahan manusia, kerusakan barang, atau bahkan pencurian.
Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Persediaan dalam Banyak Bisnis
Apa Hubungan antara Nilai Persediaan Awal Tahun dan Persediaan Akhir?

Hubungannya adalah bahwa persediaan akhir pada satu periode harus sama dengan persediaan awal pada periode berikutnya.
Selain itu, jika Anda ingin menyusun strategi terkait gudang, mengevaluasi pengeluaran, bahkan mengelola tenaga kerja, Anda bisa memeriksa kedua nilai persediaan ini.
Sederhananya:
- Persediaan awal: Mencerminkan nilai barang Anda di awal periode. Berfungsi sebagai angka dasar untuk menentukan berapa yang Anda hasilkan, berapa yang Anda keluarkan, dan alokasi pengeluaran tersebut.
- Persediaan akhir: Memberikan Anda gambaran tentang biaya dan manfaat finansial dari penjualan produk pada tingkat harga tertentu. Dengan menyoroti penjualan dan biaya dalam satu periode penuh, Anda bisa tahu area mana yang perlu ditingkatkan.
Tidak hanya itu, kedua metrik ini juga digunakan dalam berbagai rumus persediaan penting lainnya yang memungkinkan Anda melacak dan mengelola proses manajemen persediaan secara lebih efektif.
Baca Juga: Pengertian Laporan Persediaan Barang, Cara Membuat, dan Jenisnya
Bagaimana Cara Menghitung Nilai Persediaan Awal Tahun?

Nilai persediaan awal tahun dihitung dengan rumus berikut:
Persediaan Awal = (HPP + Persediaan Akhir) – Pembelian
Keterangan:
- HPP = Untuk menghitung HPP pada akhir periode akuntansi, gunakan data dari periode sebelumnya.
- Persediaan Akhir (dari periode sebelumnya) = Jika ini adalah pertama kalinya Anda menghitung nilai persediaan akhir, Anda perlu menentukan jumlah persediaan yang dibeli dan yang terjual selama periode tersebut.
- Rumus persediaan akhir = Persediaan Awal + Pembelian Bersih – COGS
Contoh perhitungan persediaan awal:
Misalnya, Bu Subekti memiliki toko furnitur yang menjual sofa. Selama periode akuntansi terakhir, ia menjual 150 sofa. Bu Subekti membeli setiap sofa seharga Rp4.000.000 dari pemasok.
Maka HPPnya adalah:
HPP = Harga per unit × Jumlah
= Rp4.000.000 × 150 = Rp600.000.000
Selanjutnya, misalnya pada akhir periode Bu Subekti telah menjual 900 sofa, sehingga sisa sofa adalah 60 unit. Maka nilai persediaan akhirnya adalah:
Persediaan Akhir = Harga per unit × Sisa persediaan
= Rp4.000.000 × 60 = Rp240.000.000
Kemudian, Bu Subekti membeli tambahan 50 sofa dari pemasok untuk bisnisnya di tahun berikutnya. Maka biaya pembelian baru adalah:
Pembelian = Harga per unit × Jumlah
= Rp4.000.000 × 50 =Rp200.000.000
Dengan demikian, nilai persediaan awal tahun adalah:
Persediaan Awal = (HPP + Persediaan Akhir) – Pembelian
= (Rp600.000.000 + Rp240.000.000) – Rp200.000.000
= Rp640.000.000
Jadi, nilai persediaan awal tahun Bu Subekti adalah Rp640.000.000.
Baca Juga: Biaya Persediaan (Inventory Costing): Metode dan Contohnya
Apa itu Persediaan Akhir?

Pada penjelasan di atas, kami menjelaskan bahwa Anda perlu menghitung persediaan akhir untuk mengetahui nilai persediaan awal. Tapi, apa itu persediaan akhir dan bagaimana cara menentukan nilainya?
Persediaan akhir adalah jumlah barang yang tersisa untuk dijual oleh perusahaan pada akhir periode akuntansi.
Anda bisa menghitung nilai persediaan akhir menggunakan berbagai metode perhitungan. Meski metodenya berbeda-beda, tapi jumlah fisik persediaan akhir akan tetap sama.
Metode yang umum digunakan untuk menilai persediaan akhir adalah:
First in, first out (FIFO)
Metode penilaian FIFO adalah metode yang paling populer, yaitu mengasumsikan bahwa persediaan yang pertama kali dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu.
Oleh karena itu, biaya dari persediaan yang paling awal dibeli akan diakui terlebih dahulu saat menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP).
FIFO biasanya menghasilkan HPP yang lebih rendah dan laba kotor yang lebih tinggi, karena harga pembelian di awal umumnya lebih murah daripada pembelian di periode berikutnya.
Contoh Metode FIFO:
Misalkan Bu Subekti membeli 5 kursi dengan harga masing-masing Rp150.000. Kemudian, setelah beberapa bulan, ia membeli lagi 5 kursi yang sama dengan harga Rp200.000 per unit dari pemasok.
Sekarang, Bu Subekti memiliki total 10 unit barang dalam persediaannya. Ia menjual 5 kursi pertama menggunakan metode FIFO.
Artinya, ia menjual 5 kursi yang dibeli terlebih dahulu (dengan harga Rp150.000 per unit) dan mencatat harga pokok penjualan sebesar Rp750.000
Biaya rata-rata tertimbang (weighted average cost)
Metode ini menghitung rata-rata nilai seluruh persediaan dan biasanya digunakan ketika produk yang dimiliki perusahaan bersifat seragam.
Cara menghitungnya cukup sederhana: jumlahkan total biaya barang yang dibeli dalam suatu periode akuntansi, lalu bagi dengan total jumlah unit barang.
Metode ini membantu meratakan fluktuasi harga yang mungkin terjadi ketika persediaan dibeli dalam waktu yang berbeda.
Contoh Metode Rata-Rata Tertimbang
Misalnya, Bu Subekti memulai dengan saldo persediaan awal sebanyak 100 barang dengan harga Rp250.000 per unit. Kemudian, ia membeli tambahan 400 unit dengan harga Rp350.000 per unit.
Dengan demikian, total persediaan Thomas adalah 500 unit. Menggunakan metode rata-rata tertimbang, nilai rata-rata per unit adalah Rp325.000 sehingga total nilai persediaan menjadi Rp1.300.000
Dalam contoh ini diasumsikan bahwa tidak ada penjualan yang terjadi selama periode tersebut.
Sebenarnya selain 2 metode di atas, masih ada 1 lagi metode penilaian persediaan, yaitu LIFO (Last In, Last Out). Tapi, metode penilaian ini tidak diperbolehkan di Indonesia.
Baca Juga: Fifo, Lifo dan Average: Pengertian Lengkap dan Perbedaannya
Kesimpulan
Nilai persediaan awal tahun menunjukkan nilai dari seluruh persediaan yang dimiliki bisnis pada awal periode akuntansi. Ini adalah indikator penting yang mencerminkan efisiensi pengelolaan stok, akurasi pencatatan, hingga kesehatan arus kas bisnis Anda.
Karena itu, penting bagi bisnis untuk memiliki sistem pencatatan persediaan yang rapi dan konsisten seperti software akuntansi Kledo.
Dengan fitur manajemen persediaan yang terintegrasi, Anda dapat memantau stok secara otomatis, menghitung nilai persediaan dengan lebih akurat, serta membuat laporan keuangan yang siap digunakan kapan saja.
Coba sendiri Kledo dan rasakan manfaatnya untuk bisnis Anda.
- Nilai Persediaan Awal Tahun dan Cara Menghitungnya - 27 April 2026
- Apa Itu Proses Manufaktur? Jenis, Hambatan, dan Cara Mengatasi - 27 April 2026
- 10 Tips Mengoptimalkan Penggunaan Buku Kas Harian - 27 April 2026
