Dalam menjalankan bisnis, perusahaan tidak hanya berhubungan dengan pelanggan dan karyawan.
Ada berbagai pihak lain yang dapat memengaruhi keputusan bisnis atau terdampak oleh aktivitas perusahaan, seperti investor, pemasok, pemerintah, hingga masyarakat sekitar. Pihak-pihak ini disebut stakeholder.
Stakeholder mapping membantu bisnis mengidentifikasi dan memetakan pihak-pihak tersebut berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruhnya.
Dengan begitu, pemilik bisnis dan manajer dapat menentukan siapa yang perlu diprioritaskan, bagaimana cara berkomunikasi, serta bagaimana mengelola hubungan dengan masing-masing stakeholder.
Artikel ini akan membahas apa itu stakeholder mapping, tujuan, cara membuat, dan contohnya.
Apa Itu Stakeholder Mapping?
Stakeholder mapping adalah metode untuk mengidentifikasi, mengelompokkan, dan memetakan stakeholder berdasarkan karakteristik tertentu, terutama tingkat pengaruh (power) dan kepentingan (interest) mereka terhadap bisnis.
Namun sekarang, komunitas lokal, LSM lingkungan, dan konsumen generasi muda kini juga memiliki pengaruh besar terhadap perusahaan.
Stakeholder sendiri merupakan pihak yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan, baik karena dapat memengaruhi keputusan maupun terdampak oleh aktivitas perusahaan.
Menurut Roeder (2013) dalam penelitiannya, stakeholder adalah orang-orang yang terdampak oleh suatu proyek, menjadi bagian dari proyek tersebut, atau memiliki wewenang pengambilan keputusan dalam proyek itu.
Dengan kata lain, siapa pun yang terlibat dalam sebuah proyek merupakan pemangku kepentingan.
Baca Juga: Apa Itu Teori Stakeholder? Contoh Penerapannya dalam Bisnis
Apa Saja Jenis Stakeholder dalam Bisnis?
Dalam bisnis, stakeholder terbagi menjadi stakeholder internal dan eksternal berdasarkan hubungannya dengan perusahaan.
Dengan mengenali kedua jenis stakeholder, Anda bisa mengidentifikasi pihak yang perlu dilibatkan, memahami kepentingannya, dan menentukan pendekatan komunikasi yang sesuai saat melakukan stakeholder mapping.
1. Stakeholder Internal
Stakeholder internal adalah pihak yang berada di dalam organisasi dan terlibat langsung dalam kegiatan atau pengambilan keputusan bisnis.
Contohnya adalah pemilik bisnis yang berkepentingan terhadap keuntungan dan pertumbuhan usaha, manajemen yang bertanggung jawab atas strategi dan operasional, serta tim keuangan yang mengelola anggaran dan arus kas.
Karyawan juga termasuk stakeholder internal karena keputusan perusahaan dapat memengaruhi beban kerja, kompensasi, dan kesejahteraan mereka.
2. Stakeholder Eksternal
Stakeholder eksternal adalah pihak di luar organisasi yang dapat memengaruhi atau terdampak oleh aktivitas bisnis.
Contohnya, pelanggan berkepentingan terhadap kualitas produk dan layanan, sedangkan pemasok mengharapkan pembayaran dan kerja sama yang lancar.
Bank memperhatikan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban pinjaman, sementara investor berkepentingan terhadap potensi keuntungan dan perkembangan bisnis.
Instansi pemerintah juga dapat menjadi stakeholder karena berhubungan dengan perizinan dan ketentuan yang relevan dengan kegiatan usaha.
Baca Juga: Analisa Usaha: Tahapan, Teknik, dan Tips Melakukannya
Apa Tujuan dan Manfaat Stakeholder Mapping bagi Bisnis??
Stakeholder mapping membantu bisnis memahami pihak mana yang perlu diperhatikan dan bagaimana cara mengelola hubungannya. Beberapa tujuannya yaitu:
- Mengidentifikasi pihak yang berkepentingan terhadap bisnis.
- Menentukan tingkat pengaruh dan kepentingan setiap stakeholder.
- Menentukan prioritas komunikasi dan keterlibatan.
- Mengurangi risiko konflik, miskomunikasi, atau keputusan yang tidak sesuai kepentingan stakeholder.
Apa perbedaan stakeholder mapping dan stakeholder analysis?
Stakeholder mapping fokus memvisualisasikan dan mengelompokkan stakeholder, misalnya berdasarkan tingkat pengaruh dan kepentingannya.
Sementara itu, stakeholder analysis merupakan proses yang lebih luas untuk memahami karakteristik, kebutuhan, kepentingan, pengaruh, serta potensi dampak dari setiap stakeholder.
Baca Juga: Stakeholder Engagement: 7 Contoh Penerapannya di Bisnis Kecil
Apa Saja Model dan Metode Stakeholder Mapping?
Ada 3 model stakeholder mapping, yaitu: stakeholder matrix, salience model, dan sociagram. Anda bisa memilih salah satu di antaranya berdasarkan tujuan analisis, kompleksitas bisnis, dan informasi yang ingin diperoleh.
Untuk menentukan pihak yang perlu diprioritaskan, perusahaan dapat menggunakan Power/Interest Grid atau Salience Model, sedangkan Sociogram membantu memahami hubungan dan pengaruh antarstakeholder.
1. Stakeholder Matrix (Power/Interest Grid)
Stakeholder matrix dengan pendekatan Power/Interest Grid merupakan metode pemetaan stakeholder berdasarkan dua dimensi, yaitu tingkat pengaruh (power) dan tingkat kepentingan (interest) terhadap suatu proyek atau keputusan bisnis.
Matriks ini umumnya memiliki empat kuadran:
| Interest Rendah | Interest Tinggi | |
|---|---|---|
| Power Tinggi | Keep Satisfied | Manage Closely |
| Power Rendah | Monitor | Keep Informed |
- Power tinggi, interest tinggi: libatkan secara aktif dan kelola dengan cermat karena pihak ini memiliki pengaruh besar sekaligus kepentingan kuat.
- Power tinggi, interest rendah: jaga kepuasan mereka dan sampaikan informasi yang relevan.
- Power rendah, interest tinggi: berikan informasi secara berkala karena mereka memiliki kepentingan besar meskipun pengaruhnya terbatas.
- Power rendah, interest rendah: pantau seperlunya dan lakukan komunikasi sesuai kebutuhan.
2. Salience Model
Salience Model adalah metode stakeholder mapping yang dikembangkan oleh Mitchell, Agle, dan Wood (1997).
Metode ini membantu perusahaan menentukan prioritas stakeholder berdasarkan tiga atribut, yaitu kekuasaan (Power/P), legitimasi (Legitimacy/L), dan urgensi (Urgency/U).
- Kekuasaan menunjukkan kemampuan stakeholder memengaruhi keputusan,
- Legitimasi berkaitan dengan kewajaran atau pengakuan atas kepentingannya,
- Urgensi menunjukkan seberapa mendesak tuntutan atau kebutuhannya perlu ditangani.
Mitchell, Agle, dan Wood berpendapat bahwa meskipun kekuasaan merupakan faktor krusial dalam menentukan tingkat kepentingan (salience) seorang stakeholder, legitimasi dan urgensi juga turut berperan.
Mungkin terdapat pemangku kepentingan yang tidak memiliki kekuasaan, namun tetap penting bagi organisasi maupun proyek tersebut.
Tabel contoh sailence model dalam stakeholder mapping:
| Kelas | Atribut | Contoh | Prioritas |
|---|---|---|---|
| Definitive | P + L + U | Direktur, klien utama | Tinggi sekali |
| Dominant | P + L | Investor | Tinggi |
| Dangerous | P + U | Media yang menekan | Tinggi (waspada) |
| Dependent | L + U | Karyawan terdampak | Sedang |
| Dormant | P | Regulator (belum aktif) | Pantau |
| Discretionary | L | Komunitas, LSM | Rendah |
| Demanding | U | Pihak yang vokal tapi tanpa pengaruh | Rendah |
3. Pemetaan Hubungan Antar Stakeholder (Sociogram)
Sociogram merupakan metode visual untuk memetakan hubungan antar stakeholder, sehingga perusahaan dapat melihat bagaimana informasi, pengaruh, atau kerja sama mengalir di antara berbagai pihak.
Berbeda dari matriks yang menilai posisi masing-masing stakeholder, sociogram menekankan pola hubungan dan keterkaitan antarpihak.
Dalam bisnis, misalnya, pemilik usaha dapat memetakan hubungan antara tim penjualan, tim keuangan, pemasok, dan pelanggan.
Misalnya, keterlambatan informasi pesanan dari tim penjualan kepada tim keuangan berpotensi menghambat proses penagihan.
Sociogram cocok digunakan ketika keberhasilan proyek bergantung pada komunikasi, kolaborasi, atau aliran informasi antar stakeholder.
Model ini dapat melengkapi Power/Interest Grid dengan memberikan gambaran tentang hubungan yang tidak terlihat jika perusahaan hanya menilai pengaruh dan kepentingan setiap pihak.
Baca Juga: Valuasi Bisnis: Pengertian, Cara Hitung, dan Tips Meningkatkannya
Bagaimana Cara Membuat Stakeholder Mapping?
Membuat stakeholder mapping dapat dilakukan dengan mengidentifikasi pihak yang berkaitan dengan bisnis, menilai tingkat kepentingan dan pengaruhnya, lalu menentukan cara mengelola setiap kelompok.
1. Tentukan tujuan pemetaan
Langkah pertama dalah membuat stakeholder mapping adalah menentukan tujuan pembuatan peta tersebut. Apakah tujuannya untuk membuat produk/fitur baru? Apakah Anda sedang bersiap memasuki pasar baru atau niche di pasar yang sudah ada? Informasi apa yang ingin Anda tamabhkan?
Begitu Anda memiliki tujuan yang jelas, Anda bisa lanjut ke langkah berikutnya.
2. Identifikasi semua stakeholder bisnis
Mulailah dengan membuat daftar seluruh stakeholder yang memiliki hubungan dengan bisnis. Kelompokkan menjadi stakeholder internal seperti pemilik, manajemen, dan karyawan, serta stakeholder eksternal seperti pelanggan, pemasok, investor, pemerintah, dan masyarakat.
Pertimbangkan juga apakah mereka terdampak langsung atau tidak langsung oleh aktivitas bisnis.
3. Tentukan tingkat kepentingan setiap stakeholder
Nilai seberapa besar kepentingan stakeholder terhadap bisnis. Pertimbangkan kebutuhan, tujuan, dan ekspektasi mereka.
Gunakan skala yang konsisten, misalnya rendah, sedang, dan tinggi, agar setiap stakeholder dapat dibandingkan dengan lebih mudah.
4. Tentukan tingkat pengaruh stakeholder
Selanjutnya, tentukan seberapa besar kemampuan setiap stakeholder dalam memengaruhi keputusan atau aktivitas bisnis.
Pertimbangkan faktor seperti kewenangan, sumber daya, posisi, serta hubungan bisnis. Dari sini, stakeholder dapat dikategorikan memiliki pengaruh tinggi atau rendah.
5. Masukkan stakeholder ke dalam stakeholder matrix
Gunakan stakeholder matrix dengan dua sumbu utama: power (tingkat pengaruh) dan interest (tingkat kepentingan).
Posisi setiap stakeholder membantu bisnis menentukan tingkat prioritas dan strategi pengelolaannya.
6. Tentukan strategi komunikasi untuk setiap kelompok
Setelah stakeholder dikelompokkan, sesuaikan cara komunikasinya.
Stakeholder dengan power dan interest tinggi perlu dikelola secara intensif, sementara stakeholder dengan power tinggi tetapi interest rendah perlu tetap dijaga hubungannya.
Stakeholder dengan pengaruh rendah dapat dipantau dan diberikan informasi sesuai kebutuhan.
Dengan pendekatan ini, bisnis tidak perlu menggunakan strategi komunikasi yang sama untuk semua pihak.
7. Evaluasi stakeholder mapping secara berkala
Evaluasi peta ini secara berkala, terutama ketika terjadi perubahan struktur bisnis, hubungan dengan stakeholder, atau tingkat pengaruh dan kepentingan mereka.
Tambahkan stakeholder baru ketika muncul hubungan bisnis baru agar peta stakeholder tetap relevan.
Baca Juga: Tips Manajemen Strategis, Tahapan dan Pengertiannya Pada Bisnis
Contoh Stakeholder Mapping untuk Bisnis

Penerapan stakeholder mapping dapat berbeda sesuai karakteristik bisnis. Berikut contoh sederhananya.
Contoh stakeholder mapping perusahaan dagang
Perusahaan dagang umumnya memiliki stakeholder seperti:
- Pemilik: memiliki kepentingan tinggi dan pengaruh tinggi terhadap keputusan bisnis.
- Manajemen: berpengaruh besar dalam operasional dan pengambilan keputusan.
- Supplier: berkepentingan terhadap hubungan dan transaksi bisnis, dengan tingkat pengaruh yang bergantung pada perannya.
- Pelanggan: memiliki kepentingan tinggi terhadap produk dan layanan, tetapi pengaruhnya dapat berbeda-beda.
- Karyawan: berkepentingan terhadap keberlangsungan perusahaan dan operasional bisnis.
- Bank: dapat memiliki pengaruh tinggi ketika bisnis memiliki fasilitas pinjaman atau pembiayaan.
- Pemerintah: memiliki pengaruh melalui regulasi, perizinan, dan kewajiban bisnis.
Contoh stakeholder mapping bisnis jasa
Pada bisnis jasa, stakeholder umumnya meliputi pihak-pihak berikut:
- Institusi keuangan: berkepentingan terhadap kemampuan bisnis dalam memenuhi kewajiban pembiayaan.
- Pemilik bisnis: memiliki pengaruh dan kepentingan tinggi.
- Tim operasional: berperan langsung dalam memberikan layanan kepada pelanggan.
- Klien: memiliki kepentingan tinggi terhadap kualitas dan hasil layanan.
- Freelancer atau vendor: mendukung penyediaan layanan sesuai kebutuhan bisnis.
- Investor: memiliki kepentingan terhadap kinerja dan perkembangan bisnis.
Contoh Stakeholder Mapping UMKM
Pada UMKM, stakeholder yang terlibat biasanya lebih sederhana daripada perusahaan besar.
Namun, masing-masing tetap memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh yang berbeda.
- Pemilik: menentukan arah dan keputusan utama bisnis.
- Karyawan: menjalankan aktivitas operasional dan memiliki kepentingan terhadap keberlangsungan usaha.
- Pelanggan: memengaruhi pendapatan dan keberlanjutan bisnis melalui keputusan pembelian.
- Supplier: mendukung ketersediaan bahan baku atau produk.
- Bank: berperan dalam penyediaan layanan pembiayaan dan keuangan.
- Pemerintah: berkaitan dengan regulasi, perizinan, dan kewajiban usaha.
Contoh Stakeholder Mapping dalam Bentuk Tabel
Berikut contoh sederhana yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing bisnis:
| Stakeholder | Kepentingan | Pengaruh | Kebutuhan Informasi | Strategi Komunikasi | Frekuensi Komunikasi |
|---|---|---|---|---|---|
| Pemilik | Tinggi | Tinggi | Kinerja dan kondisi bisnis | Laporan dan diskusi rutin | Mingguan/bulanan |
| Karyawan | Tinggi | Tinggi | Target, tugas, dan kebijakan | Briefing dan komunikasi langsung | Harian/mingguan |
| Pelanggan | Tinggi | Sedang | Produk, harga, dan layanan | Informasi produk dan layanan pelanggan | Sesuai kebutuhan |
| Supplier | Sedang | Sedang | Pesanan, pembayaran, dan kebutuhan stok | Komunikasi dan koordinasi langsung | Mingguan/bulanan |
| Bank | Sedang | Tinggi | Kondisi dan kewajiban keuangan | Pelaporan dan komunikasi formal | Sesuai kebutuhan |
| Pemerintah | Sedang | Tinggi | Data dan kepatuhan usaha | Pelaporan serta komunikasi administratif | Sesuai ketentuan |
Baca Juga: Conflict Of Interest: Pengertian, Jenis, Dampak, Dan Tips Menanganinya
Bagaimana Stakeholder Mapping Membantu Pebisnis Mengambil Keputusan?

Stakeholder mapping membantu pebisnis memahami siapa saja yang dapat memengaruhi keputusan dan bagaimana keputusan tersebut berdampak pada setiap pihak.
Dengan pemetaan yang jelas, Anda bisa mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan stakeholder yang relevan.
1. Mengurangi risiko bisnis
Stakeholder mapping membantu bisnis mengantisipasi risiko sebelum menerapkan keputusan dan mengidentifikasi apakah ada pihak yang berpotensi menghambat keputusan.
Pemetaan ini juga membantu mendeteksi potensi konflik kepentingan serta memprioritaskan risiko berdasarkan tingkat pengaruh stakeholder.
2. Meningkatkan komunikasi bisnis
Setiap stakeholder memiliki kebutuhan informasi yang berbeda. Pemetaan membantu bisnis menentukan informasi yang relevan untuk setiap stakeholder, seberapa sering harus menyelenggarakan komunikasi, dan saluran komunikasi apa yang tepat agar pesan tidak salah sasaran.
3. Membantu pengelolaan keuangan
Stakeholder mapping juga dapat membantu menentukan siapa yang membutuhkan informasi keuangan dan jenis informasi yang diperlukan.
Misalnya, pemilik dan manajemen membutuhkan informasi untuk mengambil keputusan, sementara investor dan bank dapat membutuhkan informasi mengenai kondisi serta kinerja keuangan bisnis.
Dengan demikian, data keuangan dapat disiapkan sesuai kebutuhan stakeholder dan digunakan sebagai dasar dalam komunikasi maupun pengambilan keputusan bisnis.
Baca Juga: 5 Unsur Manajemen yang Harus Diketahui Pemilik Bisnis
Apa Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Stakeholder Mapping?

Stakeholder mapping akan kurang efektif jika dilakukan hanya sebagai formalitas tanpa mempertimbangkan kondisi bisnis yang sebenarnya.
Hindari beberapa kesalahan berikut saat pemetaan stakeholder:
Mengabaikan stakeholder dengan pengaruh rendah
Stakeholder dengan pengaruh rendah tetap dapat memiliki kepentingan tinggi terhadap bisnis. Selain itu, tingkat pengaruh mereka dapat berubah seiring waktu. Karena itu, mereka tetap perlu dipantau dan diberikan informasi yang relevan.
Tidak memperbarui tingkat pengaruh stakeholder
Pengaruh stakeholder tidak selalu tetap. Perubahan posisi, hubungan bisnis, kepemilikan, atau kondisi perusahaan dapat membuat tingkat pengaruh seseorang atau suatu pihak berubah.
Misalnya, manajer yang sebelumnya tidak terlibat dalam keputusan strategis kemudian naik pangkat menjadi direktur, sehingga pengaruhnya terhadap bisnis meningkat.
Lalu, ketika bisnis mengalami masalah arus kas dan membutuhkan pinjaman, bank atau lembaga keuangan dapat menjadi stakeholder yang lebih berpengaruh karena berkaitan dengan pembiayaan bisnis.
Jadi, Anda perlu selalu memperbarui pemetaan agar strategi yang digunakan tetap sesuai.
Menggunakan strategi komunikasi yang sama
Setiap stakeholder memiliki kebutuhan informasi, kepentingan, dan tingkat pengaruh yang berbeda.
Menggunakan komunikasi yang sama untuk semua pihak dapat membuat informasi terlalu banyak, kurang relevan, atau tidak memenuhi kebutuhan stakeholder tertentu.
Misalnya, bank membutuhkan informasi mengenai kondisi dan kemampuan keuangan bisnis, terutama jika ada pinjaman. Sementara itu, supplier lebih membutuhkan informasi terkait pesanan, jumlah barang, dan jadwal pembayaran.
Tidak menggunakan data bisnis yang relevan
Pemetaan yang hanya berdasarkan asumsi dapat menghasilkan prioritas yang keliru.
Gunakan informasi yang relevan, seperti hubungan bisnis, nilai transaksi, kewenangan, kebutuhan informasi, dan riwayat interaksi untuk menentukan posisi stakeholder secara lebih objektif.
Baca Juga: 21 Manfaat Laporan Keuangan bagi Bisnis dan Semua Pemangku Kepentingan
Apa Saja Tool untuk Melakukan Stakeholder Mapping?
Dalam melakukan stakeholder mapping, kami merekomendasikan 2 jenis tool, yaitu spreadsheet/Excel dan whiteboard digital.
1. Spreadsheet untuk UMKM dan Bisnis Kecil
Microsoft Excel dan Google Sheets cocok untuk UMKM yang membutuhkan tools stakeholder mapping sederhana.
Keduanya memungkinkan bisnis mencatat nama stakeholder, peran, tingkat pengaruh, kepentingan, serta strategi komunikasi dalam satu tabel.
Tim juga dapat menggunakan data tersebut untuk menentukan prioritas stakeholder dan memperbarui informasi secara berkala.
Sebagai awalan, Anda bisa mengikuti contoh stakeholder mapping dalam bentuk tabel yang telah dibahas sebelumnya. Namun, pemetaan hubungan antarstakeholder akan lebih sulit dibaca jika hanya mengandalkan spreadsheet.
2. Whiteboard Digital dan Software Visualisasi
Tools seperti Miro, Lucidchart, dan Lucidspark cocok untuk bisnis yang membutuhkan visualisasi stakeholder dan kolaborasi tim.
Miro dan Lucidspark mendukung diskusi visual menggunakan kanvas bersama, sedangkan Lucidchart membantu menyusun diagram hubungan antarstakeholder.
Tools ini memudahkan tim melihat posisi, keterkaitan, dan jalur komunikasi antarpihak. Meski demikian, tim tetap perlu menilai pengaruh dan kepentingan stakeholder secara mandiri serta memperbarui peta sesuai perubahan kondisi bisnis.
Baca Juga: Stakeholder Communication: Pengertian, Manfaat, & Strateginya
Kesimpulan
Stakeholder mapping membantu bisnis memahami siapa saja pihak yang memiliki kepentingan dan pengaruh terhadap perusahaan.
Dengan memetakan stakeholder berdasarkan tingkat pengaruh dan kepentingannya, pebisnis dapat menentukan prioritas komunikasi, mengurangi potensi konflik, serta mengambil keputusan dengan lebih terarah.
Penerapannya juga tidak berhenti pada hubungan dan komunikasi. Pebisnis perlu menyediakan informasi yang sesuai untuk stakeholder, terutama ketika berkaitan dengan kondisi dan kinerja keuangan bisnis.
Karena itu, data keuangan yang rapi menjadi bagian penting dalam pengelolaan hubungan dengan stakeholder.
Untuk memudahkan pengelolaan data tersebut, software akuntansi Kledo dapat membantu bisnis mencatat transaksi dan menyusun berbagai laporan keuangan secara lebih praktis.
Coba Kledo sekarang untuk pencatatan transaksi dan pelaporan data yang lebih baik, bisa diakses kapan saja.
- Apa Perbedaan RFI, RFQ, dan RFP dalam Procurement? - 29 October 2026
- COSO ERM: Komponen, Manfaat, dan Cara Penerapannya - 29 October 2026
- PSAK 117: Penerapan dan Dampaknya bagi Perusahaan Asuransi - 29 October 2026
