Akuntansi forensik adalah cabang akuntansi yang menangani deteksi dan pencegahan kasus kriminal yang berkaitan dengan keuangan.
Mereka yang bekerja di bidang ini disebut akuntan forensik. Mereka menggunakan kemampuan akuntansi, audit, dan inestigasinya untuk meneliti keuangan seseorang atau suatu bisnis.
Akuntan forensik adalah akuntan tersertifikasi yang mencari bukti kasus dan biasanya bekerja untuk perusahaan asuransi, penegak hukum, dan institusi keuangan.
Ingin belajar lebih lanjut tentang apa saja yang dikerjakan akuntan forensik dan bagaimana contoh kasus yang mereka tangani? Artikel ini akan menjawab semua pertanyaan Anda.
Apa Saja Lingkup Pekerjaan Akuntansi Forensik?

Akuntansi forensik menginvestigasi kasus kejahatan kerah putih seperti penipuan, penyuapan, pencucian uang, dan penggelapan dana.
Ketika suatu bisnis sudah berskala besar, investigasi keuangannya juga menjadi semakin rumit.
Dalam hal ini, akuntan forensik biasanya yang akan bertugas menganalisis akuntansi dan bukti permasalahannya.
Lingkup kerja akuntan forensik biasanya mencakup hal berikut:
1. Penilaian (Valuations)
Menentukan nilai saham, bisnis, kemitraan, aset tidak berwujud, dan lainnya yang menjadi objek sengketa, hilang, atau rusak.
Akuntan forensik harus meninjau informasi baik sebagai analis keuangan maupun sebagai penyelidik akuntansi, melakukan penyesuaian yang diperlukan, serta menerapkan metodologi yang umum diterima atau dapat dipertanggungjawabkan untuk menentukan nilai tersebut.
2. Kelalaian Profesional (Professional Negligence)
Meninjau tindakan yang dilakukan seseorang untuk menentukan apakah terjadi kelalaian dan, jika ya, sejauh mana kelalaiannya.
Ketika meninjau seorang akuntan profesional, diperlukan pemahaman yang mendalam tentang standar akuntansi yang berlaku serta hukum yang relevan.
3. Kecurangan
Akuntan forensik menyelidiki kecurangan serta menetapkan prosedur untuk mencegah atau mendeteksi kecurangan.
Mereka sering diminta untuk menyelidiki kasus kecurangan, mengidentifikasi bukti dokumen yang relevan, menghitung kerugian, serta membantu proses penuntutan terhadap pihak yang terlibat.
4. Perkara Hukum Keluarga
Akuntan forensik juga berkoordinasi dengan pengacara dan klien untuk menyelidiki kasus dugaan kecurangan atau penyalahgunaan aset dalam perceraian atau sengketa keluarga lainnya.
5. Penipuan pajak
Akuntan forensik akan bekerja sama dengan pemerintah serta lembaga setempat untuk menginvestigasi kasus kemungkinan penipuan pajak.
Baca Juga: Memahami Audit Forensik, Contoh, dan Bedanya dengan Audit Internal
Studi Kasus Akuntansi Forensik di Crocs, Inc.

Studi kasus akuntansi forensik ini kami sarikan dari jurnal berjudul “Auditors’ Duty to Respond to “Red Flags” Indicative of Overvaluation of Inventory: A Case Study of Sanchez v. Deloitte & Touche“.
Jurnal ini membahas studi kasus hukum Sanchez v. Deloitte & Touche, yang melibatkan perusahaan sepatu Crocs, Inc. dan auditornya Deloitte & Touche.
Crocs, Inc. adalah produsen sepatu yang berdiri tahun 2002 di Colorado, Amerika Serikat. Pertumbuhan perusahaan ini sangatlah pesat, hingga tahun 2006 saja sudah menjual di 11.000 toko domestik dan 8.000 toko luar negeri.
Namun di balik pertumbuhan pesat itu, ada permasalahan yang pada akhirnya menjadi bom waktu, yaitu sistem pengendalian inventaris yang sangat primitif dan tidak memadai.
Akar masalah: sistem inventaris yang gagal
Dari perspektif akuntansi forensik, Crocs memiliki beberapa red flag berupa kelemahan dalam sistem seperti:
- Penggunaan Excel yang Tidak Memadai: Crocs masih menggunakan spreadsheet Excel untuk melacak inventaris dan memperkirakan penjualan, padahal perusahaan sudah beroperasi di skala global. Dalam konteks forensik, penggunaan sistem yang tidak memadai secara sengaja atau karena kelalaian dapat menjadi indikasi fraud by omission.
- Barcode Ganda Satu barcode yang sama digunakan untuk banyak produk berbeda. Akibatnya,
- Data inventaris tidak bisa dipercaya
- Tidak ada jejak audit yang jelas
- Memudahkan terjadinya manipulasi data inventaris
- Tidak Ada Prosedur Tertulis Tidak ada prosedur akuntansi formal. Dalam akuntansi forensik, ketiadaan dokumentasi adalah red flag utama karena menunjukkan lingkungan yang kondusif untuk terjadinya fraud (fraud-enabling environment).
Baca Juga: Pentingnya Komite Audit Dalam Sebuah Perusahaan
Analisis red flag di Crocs. Inc
Dalam akuntansi forensik, red flags adalah sinyal peringatan yang harus direspons oleh auditor.
Berikut analisis setiap red flag dalam kasus ini:
Red Flag 1: Lonjakan persedian yang Ekstrem
Inventaris Crocs meningkat 4x lipat dalam periode yang singkat, yaitu 2006-2008.
Dari perspektif forensik, kenaikan inventaris yang tidak wajar seperti ini adalah sinyal overstatement of assets, yang merupakan salah satu skema fraud paling umum dalam laporan keuangan.
Red Flag 2: Produksi Tidak Terkendali
Manajemen memerintahkan pabrik China untuk terus memproduksi hingga 1,5 juta pasang sepatu per minggu, bahkan saat permintaan pasar menurun.
Alasannya untuk melawan sepatu Crocs palsu di pasar gelap, namun dalam analisis forensik, alasan ini patut dipertanyakan karena tidak proporsional dengan kondisi pasar nyata.
Red Flag 3: Kesalahan Pengiriman dan Produk Tidak Laku
- Ribuan pasang sepatu wanita ukuran 13 dengan warna tidak biasa menumpuk di gudang
- Sering mengirim pesanan yang salah ke retail
- Peningkatan retur produk akibat kualitas rendah dari pabrik China
Dari perspektif forensik, ini menunjukkan adanya inventory obsolescence yang sengaja tidak diakui dalam laporan keuangan.
Red Flag 4: Pengabaian laporan internal
Pada September 2007, kepala divisi teknologi informasi yang baru bergabung mengirimkan laporan kritis kepada CFO yang merinci kelemahan sistem manajemen data.
Manajemen yang mengabaikan laporan ini menjadi indikasi adanya tone at the top yang bermasalah.
Maksudnya adalah permasalahan pada sikap, perilaku, dan komitmen manajemen di tingkat eksekutif dan direksi.
Red Flag 5: Pelanggaran GAAP
Crocs terus mencatat inventaris pada harga historis (historical cost), padahal kondisi pasar jelas menunjukkan nilai pasar sudah jauh di bawah harga pokok.
Padahal berdasarkan GAAP, mereka seharusnya mencatat inventaris dengan harga lebih rendah dari pasar atau biaya.
Menerapkan aturan ini secara sengaja dapat dikategorikan sebagai kecurangan dalam pelaporan keuangan.
Baca Juga: Prosedur Pengendalian Kas dalam Akuntansi dan Tipsnya
Peran dan kegagalan Deloitte sebagai auditor
Deloitte mengaudit laporan keuangan Crocs Inc selama dua tahun (2006 dan 2007), dan hasilnya semua wajar tanpa pengecualian.
Tapi, kurang dari satu tahun setelah Deloitte memberikan opini tersebut di tahun 2007, perusahaan terpaksa melakukan inventory write down sebesar lebih dari $70 juta.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: “Apakah Deloitte benar-benar tidak melihat red flags tersebut, atau memilih untuk tidak melihatnya?“
Namun, Deloitte dinyatakan tidak terbukti karena penggugat gagal membuktikan bahwa Deloitte mengetahui secara spesifik red flags tersebut.
Dampak kegagalan akuntansi forensik terhadap Crocs, Inc
Kronologi dampak kasus ini terhadap harga saham Crocs sangat dramatis dan relevan sebagai bukti kerugian dalam litigasi:
Setelah kejadian tersebut, Crocs, Inc mengalami masalah seperti:
- 31 Oktober 2007: Pengungkapan sebagian masalah inventaris, sehingga harga saham turun 36% dalam satu hari
- 14 April 2008: Pengumuman kenaikan inventaris 5–10%, sehingga harga saham anjlok 45%
- November 2008: Write-down inventaris $70 juta, sehingga membawa kerugian besar bagi pemegang saham
Baca Juga: Audit Laporan Keuangan: Tahapan, Manfaat, dan Batasan
Apa penyebab permasalahan inventaris di Crocs, Inc?

Menurut jurnal ini, permasalahan inventaris dan pengabaian laporan sistem inventaris oleh manajemen di Crocs Inc bisa dijelaskan melalui konsep fraud triangle.
Dalam fraud triangle, ada 3 elemen yaitu: tekanan, peluang, dan rasionalisasi.
Tekanan (Pressure/Incentive)
Tekanan adalah motivasi di balik penipuan. Dalam kasus Crocs, Inc., tekanan ini berupa:
- Tekanan untuk mempertahankan pertumbuhan dan harga saham yang tinggi
- Manajemen menyadari permintaan menurun namun tetap mempertahankan produksi tinggi
- Kebutuhan untuk memenuhi ekspektasi analis pasar modal
Kesempatan (Opportunity)
Peluang yang tercipta dari situasi dan kondisi di Crocs, Inc. adalah:
- Sistem pengendalian internal yang sangat lemah
- Tidak ada prosedur tertulis yang bisa dijadikan acuan
- Auditor yang tidak menggali lebih dalam meski ada red flags
- Sistem Excel yang mudah dimanipulasi
Rasionalisasi (Rationalization)
Manajemen percaya permintaan akan pulih kembali karena produksi masif untuk melawan produk palsu. Mereka yakinan bahwa kondisi ini hanya sementara.
Apa yang bisa kita pelajari dari studi kasus akuntansi forensik ini?
Studi kasus akuntansi forensik pada perusahaan Crocs Inc ini membawa beberapa pelajaran yang bisa kita petik:
Bagi Auditor Forensik:
- Harus mengidentifikasi red flags secara spesifik dan terdokumentasi, bukan hanya secara umum
- Auditor tidak cukup hanya hadir secara fisik di lokasi klien, tapi juga harus melakukan prosedur investigasi yang terstruktur
- Harus memahami batas antara negligence, gross negligence, dan recklessness dalam konteks hukum
Bagi Perusahaan:
- Sistem pengendalian internal yang kuat adalah pertahanan utama terhadap fraud
- Laporan whistleblower internal (seperti laporan kepala IT) harus ditindaklanjuti, bukan diabaikan
- Penerapan GAAP harus konsisten.
Bagi Investor dan Regulator:
- Opini audit wajar tanpa pengecualian bukan jaminan bebas fraud
- Lonjakan inventaris yang tidak wajar bisa menjadi sinyal yang harus diperhatikan
Baca Juga: Audit Perusahaan: Pengertian, Jenis, Tahapan, dan Contohnya
Kesimpulan
Akuntansi forensik adalah salah satu cabang akuntansi yang menggunakan keahlian akuntansi, audit, dan investigasi untuk memeriksa dugaan kecurangan (fraud), korupsi, atau perselisihan hukum.
Cabang akuntansi ini diperlukan di banyak tempat, seperti institusi keuangan, lembaga penegak hukum, dan pemerintahan.
Dari studi kasus akuntansi forensik di atas, kita tahu bahwa yang terjadi di Crocs, Inc. mungkin bisa dihindari dengan menggunakan sistem inventaris dan pencatatan yang lebih modern.
Karena itu, bekali usaha Anda dengan software akuntansi seperti Kledo untuk pencatatan transaksi dan keuangan yang otomatis dan efisien, manajemen inventaris multi cabang, dan pengelolaan keuangan yang lebih baik.
Coba Kledo gratis sekarang dan rasakan manfaatnya sendiri.
