8 Metode Valuasi Startup dan Contoh Perhitungannya

Menentukan nilai sebuah startup bukanlah perkara mudah. Berbeda dengan perusahaan yang sudah mapan, sebagian besar startup masih berada pada tahap awal pertumbuhan sehingga belum memiliki riwayat pendapatan yang stabil, laba yang konsisten, maupun aset yang besar.

Padahal, investor tetap perlu mengetahui seberapa besar potensi dan nilai bisnis tersebut sebelum memutuskan untuk menanamkan modal.

Karena itulah banyak investor dan pakar bisnis menggunakan berbagai metode valuasi startup untuk memperkirakan nilai suatu perusahaan.

Artikel ini akan membahas valuasi startup, manfaat, tantangan yang sering dihadapi saat menentukan nilai, dan berbagai metode perhitungannya.

Apa Itu Valuasi Startup?

Valuasi startup adalah proses memperkirakan nilai suatu perusahaan yang masih berada pada tahap awal pengembangan.

Startup tidak seperti perusahaan mapan yang bisa menghitung valuasi berdasarkan data, laporan keuangan, dan kinerja pendapatan, karena startup belum memiliki rekam jejak tersebut.

Jadi, valuasi startup didasarkan pada berbagai faktor, seperti:

  • Potensi pertumbuhan
  • Analisis persaingan
  • Tren pasar
  • Model bisnis
  • Industri dan audiens

Valuasi berperan penting dalam proses penggalangan dana (fundraising), karena investor akan mempertimbangkan nilai valuasi saat menilai peluang keberhasilan sebuah startup.

kledo banner 2

Baca Juga: Laporan Keuangan Utama Startup: Contoh dan Download Template

Apa Manfaat Memahami Valuasi Startup?

Melakukan valuasi startup secara akurat sangat penting karena memberikan berbagai manfaat bagi bisnis, di antaranya:

  • Membantu menarik investor untuk memberikan pendanaan atau suntikan modal.
  • Mendukung pengambilan keputusan strategis yang lebih tepat berdasarkan nilai perusahaan.
  • Menentukan pembagian kepemilikan saham (ekuitas) yang adil bagi pendiri, investor, maupun karyawan.
  • Memperkuat posisi dalam negosiasi bisnis dengan pemasok, mitra, atau pihak lainnya.
  • Meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan di mata investor, pemangku kepentingan, serta calon pelanggan.
  • Mempermudah ekspansi dan pertumbuhan bisnis karena lebih mudah memperoleh pendanaan.
  • Menarik dan mempertahankan talenta dengan menawarkan kepemilikan saham sebagai bagian dari kompensasi.
  • Memenuhi kewajiban hukum dan perpajakan, terutama saat menerbitkan opsi saham (stock option) atau menghitung pajak atas kompensasi berbasis saham.

Baca Juga: TAM, SAM, dan SOM: Pengertian dan Cara Menghitungnya

Apa Saja Tantangan dalam Menentukan Valuasi Startup?

Menentukan nilai sebuah startup bukanlah hal yang mudah. Berikut beberapa tantangan yang paling sering dihadapi:

1. Kurangnya riwayat data

Perusahaan yang sudah mapan memiliki rekam jejak kinerja, laporan keuangan, dan data historis yang dapat dijadikan dasar dalam proses valuasi.

Sebaliknya, startup yang masih berada pada tahap awal belum memiliki data tersebut, sehingga proses penilaiannya menjadi lebih sulit dan banyak bergantung pada proyeksi.

2. Perbedaan metode valuasi

Salah satu tantangan terbesar dalam menentukan nilai startup adalah tidak adanya satu metode valuasi yang disepakati secara universal.

Akibatnya, dua investor yang menilai startup yang sama bisa saja menghasilkan estimasi valuasi yang sangat berbeda.

Perbedaan ini muncul karena setiap metode memiliki asumsi, fokus, dan pendekatan yang berbeda dalam menilai potensi perusahaan.

3. Ketidakpastian kinerja di masa depan

Tidak ada yang dapat memastikan bagaimana kinerja sebuah startup dalam dua, lima, atau bahkan sepuluh tahun mendatang.

Kondisi pasar dapat berubah dengan cepat, situasi ekonomi global bisa memengaruhi bisnis, dan kemunculan teknologi baru dapat membuka peluang sekaligus menciptakan ancaman.

Padahal, valuasi startup sangat bergantung pada ekspektasi terhadap pertumbuhan dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan di masa depan. Karena itu, proses valuasi selalu mengandung tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi.

4. Sulit menemukan perusahaan pembanding

Startup yang menghadirkan inovasi atau teknologi baru sering kali kesulitan menemukan perusahaan lain yang dapat dijadikan pembanding.

Misalnya, bayangkan jika Anda harus menentukan valuasi Uber atau Airbnb pada masa-masa awal mereka berdiri.

Saat itu hampir tidak ada perusahaan dengan model bisnis serupa yang dapat dijadikan acuan, sehingga proses valuasinya menjadi jauh lebih rumit.

Baca Juga: Pengertian Valuasi Aset, Metode, dan Tahap Menghitungnya

Mengenal 8 Metode Valuasi Startup dan Contoh Perhitungannya

Ada banyak pilihan metode yang bisa Anda pilih. Tapi, berikut merupakan 8 metode valuasi startup yang paling umum:

1. Metode Berkus

Metode Berkus adalah metode valuasi yang dikembangkan oleh investor Dave Berkus untuk menilai startup yang masih berada pada tahap awal dan belum memiliki pendapatan maupun data keuangan yang memadai.

Metode ini memberikan nilai pada startup berdasarkan lima aspek utama.

Kelima aspek tersebut meliputi:

Aspek PenilaianPenjelasan
Ide yang kuat (Sound Idea)Nilai ide yang diusung startup dan risiko produknya
Prototipe atau teknologi (Prototype)Startup telah memiliki produk awal, minimum viable product (MVP), atau teknologi yang siap dikembangkan.
Tim manajemen yang berkualitas (Quality Management Team)Pendiri dan tim inti memiliki pengalaman, keahlian, serta kemampuan untuk menjalankan bisnis.
Hubungan strategis (Strategic Relationships)Startup memiliki kemitraan, jaringan bisnis, atau akses pasar yang dapat mempercepat pertumbuhan perusahaan.
Peluncuran produk atau penjualan (Product Rollout or Sales)Produk telah diluncurkan ke pasar atau mulai menunjukkan adanya penjualan maupun validasi dari pelanggan.

Contoh perhitungan

Misalkan seorang investor memberikan penilaian sebagai berikut:

AspekNilai
Ide bisnisRp9 miliar
PrototipeRp7 miliar
Tim manajemenRp9 miliar
Hubungan strategisRp5 miliar
Produk sudah dipasarkanRp6 miliar

Maka estimasi valuasi startup adalah: Rp9 miliar + Rp7 miliar + Rp9 miliar + Rp5 miliar + Rp6 miliar = Rp36 miliar

Dalam contoh tersebut, startup memiliki valuasi sekitar Rp36 miliar.

2. Metode Scorecard

Ini adalah metode valuasi yang membandingkan startup yang sedang dinilai dengan startup lain yang serupa dan telah berhasil memperoleh pendanaan.

Setelah itu, valuasi disesuaikan berdasarkan karakteristik startup, seperti wilayah operasional, ukuran pasar, dan tahap perkembangan bisnis.

Langkah pertama dalam metode ini adalah menentukan rata-rata valuasi pre-money startup sejenis yang masih berada pada tahap pra-pendapatan (pre-revenue).

Misalnya, rata-rata valuasi startup sejenis adalah sekitar Rp18 miliar.

Selanjutnya, startup dinilai berdasarkan sejumlah faktor pembanding yang memengaruhi nilai perusahaan. Masing-masing faktor memiliki bobot yang berbeda, yaitu:

Faktor PenilaianBobot
Kekuatan tim manajemen0–30%
Besarnya peluang pasar0–25%
Produk atau teknologi0–15%
Tingkat persaingan0–10%
Strategi pemasaran, saluran penjualan, dan kemitraan0–10%
Kebutuhan pendanaan tambahan0–5%
Faktor lainnya0–5%

Contoh perhitungan

Misalkan faktor kekuatan tim manajemen memiliki bobot 30%.

Setelah dibandingkan dengan startup lain yang telah memperoleh pendanaan, tim pendiri startup dinilai lebih baik daripada rata-rata sehingga memperoleh nilai 125%.

Perhitungan faktor tersebut menjadi: 30% × 125% = 37,5% (0,375)

Proses yang sama dilakukan pada seluruh faktor penilaian. Setelah semua skor dihitung, hasilnya dijumlahkan untuk memperoleh faktor akhir.

Misalnya, total faktor yang diperoleh adalah 1,105.

Maka valuasi startup dihitung sebagai berikut: Rp18 miliar × 1,105 = Rp19,89 miliar

Sehingga estimasi valuasi startup adalah sekitar Rp19,9 miliar.

Catatan: Metode Scorecard sangat cocok untuk menilai startup pada tahap Pre-Seed, ketika perusahaan belum memiliki pendapatan maupun data keuangan yang memadai.

Namun, kelemahannya adalah hasil valuasi sangat bergantung pada penilaian subjektif investor terhadap kualitas tim, peluang pasar, dan faktor-faktor lainnya.

Baca Juga: Runway Startup: Cara Hitung,dan Tips Memperpanjangnya

3. Metode Risk Factor Summation

Metode ini dimulai dengan menetapkan valuasi dasar (baseline valuation), yang umumnya menggunakan rata-rata valuasi startup di industri yang sama.

Setelah itu, Anda mengevaluasi startup berdasarkan 12 kategori risiko berikut:

  • Risiko Manajemen
  • Risiko Tahap Bisnis (Struktur Produk/Layanan)
  • Risiko Regulasi / Politik
  • Risiko Manufaktur / Produksi
  • Risiko Penjualan dan Pemasaran
  • Risiko Pendanaan / Penggalangan Modal
  • Risiko Persaingan
  • Risiko Teknologi
  • Risiko Litigasi (Hukum)
  • Risiko Internasional (Pasar Global)
  • Risiko Reputasi
  • Risiko Potensi Keluar (Exit)

Setiap kategori risiko bisa meningkatkan atau menurunkan nilai startup dari -2 sampai +2.

Misalnya, jika sangat positif nilainya +2, positif +1, netral +0, negatif -1, dan sangat negatif -2.

Anda bisa menjumlahkan total nilai dari semua skor lalu mengalikannya dengan faktor moneter rertentu (sesuai standar wilayah dan keputusan valuator, misal Rp3 miliar per poin).

Contoh simulasi valuasi

Berikut adalah simulasi contoh perhitungan valuasi untuk startup fiktif yang bergerak di bidang teknologi kesehatan:

Berdasarkan data pasar, rata-rata valuasi startup HealthTech tahap awal di wilayah A adalah Rp5.000.000.000.

Investor menyepakati nilai moneter sebesar Rp250 juta untuk nilai setiap poin (-1 atau +1).

Berdasarkan penilaian 12 faktor risiko:

NoKategori RisikoKondisi StartupSkorPenyesuaian Nilai (Rp)
1ManajemenTim pendiri berpengalaman dan pernah sukses membangun startup.+2+Rp500.000.000
2Tahap BisnisProduk masih berupa prototipe dan belum ada pengguna aktif.-1-Rp250.000.000
3Regulasi / PolitikIndustri medis sangat ketat dan butuh izin sertifikasi yang lama.-2-Rp500.000.000
4Manufaktur / ProduksiBerbasis software (SaaS), tidak ada risiko produksi fisik.+1+Rp250.000.000
5Penjualan & PemasaranTim pemasaran belum terbentuk, strategi B2B belum diuji.-1-Rp250.000.000
6Pendanaan / ModalSudah ada komitmen investasi awal dari angel investor.+1+Rp250.000.000
7PersainganPasar sangat padat dengan kompetitor besar yang sudah mapan.-1-Rp250.000.000
8TeknologiMenggunakan AI canggih yang menjadi nilai jual utama produk.+2+Rp500.000.000
9Litigasi / HukumPaten teknologi sudah didaftarkan dan aman.+1+Rp250.000.000
10InternasionalProduk fokus pada pasar lokal, sulit ekspansi global.-1-Rp250.000.000
11ReputasiPendiri memiliki rekam jejak bersih dan dihormati di industri.+1+Rp250.000.000
12Potensi Keluar (Exit)Banyak perusahaan farmasi besar yang suka mengakuisisi startup sejenis.+2+Rp500.000.000

Dari tabel di atas, kita bisa menghitung total skornya, yaitu: +2 – 1 – 2 + 1 – 1 + 1 – 1 + 2 + 1 – 1 + 1 + 2 = +4

Maka, total penyesuaian nilai tersebut adalah 4 x Rp250 juta = Rp1 miliar.

Valuasi akhir startup: Rp5 miliar + Rp1 miliar = Rp6 miliar.

Catatan: Metode ini banyak digunakan ketika startup menggalang dana dari angel investor, Namun, setiap investor dapat memberikan bobot yang berbeda pada masing-masing kategori risiko sehingga hasil valuasi dapat bervariasi.

4. Metode Decision Tree Valuation

Decision Tree Valuation menggunakan pendekatan pohon keputusan (decision tree) untuk memetakan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada startup, kemudian menghitung nilainya berdasarkan probabilitas setiap skenario.

Sebagai contoh, sebuah startup di bidang alat kesehatan memiliki tiga kemungkinan hasil dalam dua tahun ke depan:

KemungkinanProbabilitasNilai Jika Terjadi
Produk memperoleh persetujuan regulator dan sukses di pasar40%Rp360 miliar
Produk disetujui tetapi adopsi pasar berjalan lambat30%Rp180 miliar
Produk gagal memperoleh persetujuan regulator30%Rp0

Valuasi dihitung menggunakan rumus: (40% × Rp360 miliar) + (30% × Rp180 miliar) + (30% × Rp0)

Hasilnya: Rp144 miliar + Rp54 miliar + Rp0 = Rp198 miliar

Catatan: Metode ini cocok untuk startup yang tidak pasti karena membantu memodelkan berbagai kemungkinan di masa depan.

Kelemahannya, karena semakin banyak skenario yang dianalisis, semakin kompleks pula perhitungannya. Selain itu, estimasi probabilitas masih bersifat subjektif sehingga sebaiknya metode ini digunakan bersama metode valuasi lainnya.

5. Metode Discounted Cash Flow (DCF)

Metode Discounted Cash Flow (DCF) menentukan valuasi startup berdasarkan estimasi arus kas yang akan dihasilkan di masa depan, kemudian mengonversinya menjadi nilai saat ini dengan menggunakan tingkat diskonto (discount rate).

Metode ini paling sesuai untuk startup yang sudah memiliki arus kas relatif stabil atau mulai mendekati titik profitabilitas.

Langkah-langkahnya meliputi:

  1. Memproyeksikan arus kas selama 5–10 tahun.
  2. Menentukan tingkat diskonto yang mencerminkan risiko bisnis dan nilai waktu uang (time value of money).
  3. Mendiskontokan setiap arus kas.
  4. Menjumlahkan seluruh nilai sekarang (present value) untuk memperoleh valuasi.

Contoh

Sebagai contoh, proyeksi arus kas sebuah startup adalah sebagai berikut:

TahunProyeksi Arus KasNilai Setelah Diskonto (20%)
1Rp3,6 miliarRp3 miliar
2Rp5,4 miliarRp3,75 miliar
3Rp7,2 miliarRp4,17 miliar

Rumus DCF adalah:

DCF = Arus Kas ÷ (1 + r)n

Keterangan:

  • r = tingkat diskonto
  • n = tahun ke-n

Sehingga valuasi startup diperoleh dari: Rp3 miliar + Rp3,75 miliar + Rp4,17 miliar = sekitar Rp10,92 miliar

Catatan: Kelebihan metode DCF adalah mampu menggambarkan potensi pertumbuhan bisnis secara lebih realistis sekaligus mempertimbangkan risiko di masa depan.

Namun, hasilnya sangat bergantung pada ketepatan proyeksi arus kas dan penentuan tingkat diskonto.

Baca Juga: Market Value dan Book Value: Definisi, Perbedaan, dan Rumusnya

6. Metode Venture Capital

Metode Venture Capital (VC) Method bekerja dengan pendekatan yang berbeda, yaitu dimulai dari perkiraan nilai perusahaan saat dijual (exit value), kemudian dihitung mundur untuk memperoleh valuasi saat ini berdasarkan tingkat pengembalian investasi (return on investment atau ROI) yang diharapkan investor.

Contoh

Seorang investor ingin keuntungan 10 kali lipat dalam waktu lima tahun. Diperkirakan startup dapat dijual dengan nilai Rp1,8 triliun pada saat exit.

Maka valuasi post-money adalah: Rp1,8 triliun ÷ 10 = Rp180 miliar

Jika investor berencana menanamkan modal sebesar Rp36 miliar, maka valuasi pre-money menjadi: Rp180 miliar − Rp36 miliar = Rp144 miliar

Catatan: Keunggulan metode ini adalah didasarkan pada ekspektasi keuntungan investor sehingga mudah dipahami dalam proses negosiasi pendanaan. Namun, metode ini cenderung menyederhanakan berbagai faktor penting, seperti waktu pengembangan produk, strategi pemasaran, dan pencapaian target bisnis sebelum perusahaan mencapai tahap exit.

9. Metode Cost to Build

Metode ini memperkirakan nilai sebuah startup berdasarkan biaya yang diperlukan untuk membangun perusahaan yang sama dari nol.

Tujuan utamanya adalah mengetahui seberapa besar investasi yang dibutuhkan jika seseorang ingin mereplikasi bisnis tersebut.

Dalam metode ini, investor akan melakukan due diligence atau pemeriksaan menyeluruh terhadap berbagai biaya yang telah dikeluarkan selama membangun startup, seperti:

  • Biaya riset dan pengembangan produk.
  • Biaya pengembangan teknologi atau perangkat lunak.
  • Gaji pendiri dan karyawan.
  • Biaya operasional.
  • Waktu yang dibutuhkan untuk membangun produk dan bisnis.
  • Investasi lain yang telah dikeluarkan sejak startup didirikan.

Semakin sulit dan mahal sebuah startup untuk direplikasi, semakin tinggi pula valuasi yang dihasilkan melalui metode ini.

Contoh perhitungan

Misalkan sebuah startup telah mengeluarkan biaya sebagai berikut:

Komponen BiayaNilai
Pengembangan aplikasiRp1,8 miliar
Gaji tim selama 2 tahunRp2,7 miliar
Infrastruktur dan operasionalRp900 juta
Biaya riset dan pengembanganRp1,2 miliar
Biaya pemasaran awalRp400 juta

Total biaya yang telah dikeluarkan adalah: Rp1,8 miliar + Rp2,7 miliar + Rp900 juta + Rp1,2 miliar + Rp400 juta = Rp7 miliar

Berdasarkan metode Cost to Build, valuasi startup diperkirakan sekitar Rp7 miliar, karena itulah biaya yang diperlukan untuk membangun perusahaan dengan kondisi serupa.

Catatan: Metode ini memiliki kelemahan, yaitu hanya fokus pada biaya yang telah dikeluarkan di masa lalu dan tidak mempertimbangkan potensi pertumbuhan bisnis di masa depan.

8. Metode Comparable Transactions

Ini adalah metode yang menentukan nilai startup berdasarkan harga pendanaan atau akuisisi yang baru-baru ini terjadi pada startup lain yang memiliki karakteristik serupa.

Dengan kata lain, valuasi ditentukan berdasarkan harga yang benar-benar bersedia dibayar pasar.

Langkah pertama adalah mencari startup pembanding yang memiliki kesamaan dalam beberapa aspek, seperti:

  • Tahap perkembangan bisnis (Pre-Seed, Seed, Series A, dan seterusnya).
  • Model bisnis.
  • Industri.
  • Wilayah operasional.

Selanjutnya, investor mengidentifikasi metrik yang digunakan dalam transaksi tersebut seperti kelipatan pendapatan, kelipatan EBITDA, dan jumlah pengguna atau pelanggan.

Setelah memperoleh data pembanding, angka tersebut disesuaikan dengan kondisi startup yang sedang dinilai, misalnya berdasarkan pertumbuhan bisnis, jumlah pelanggan, kualitas tim, hingga kondisi pasar saat ini.

Contoh perhitungan

Misalkan terdapat tiga startup sejenis yang baru saja diakuisisi. Masing-masing memiliki Annual Recurring Revenue (ARR) sebesar Rp18 miliar dan diakuisisi dengan valuasi sekitar 4 hingga 5 kali pendapatan tahunan.

Startup Anda memiliki ARR sebesar Rp14,4 miliar, tim yang kuat, serta pertumbuhan pengguna yang baik.

Jika digunakan revenue multiple sebesar 4,5 kali, maka valuasi startup dihitung sebagai berikut:

Valuasi = Rp14,4 miliar × 4,5 = Rp64,8 miliar

Dengan demikian, estimasi valuasi startup adalah sekitar Rp64,8 miliar.

Catatan: Metode ini paling cocok untuk startup yang telah memiliki pendapatan dan beroperasi di industri yang cukup aktif dalam pendanaan maupun akuisisi.

Kelemahannya, data transaksi startup swasta sering kali tidak dipublikasikan secara lengkap sheingga sulit mendapatkan pembanding.

Baca Juga: Rumus Enterprise Value dan Contoh Menghitungnya

Kesimpulan

Valuasi startup adalah angka yang penting karena selalu digunakan investor dalam mencari pendanaan. Namun karena tidak ada satu metode valuasi yang paling tepat untuk semua startup, maka Anda harus memilih metode yang sesuai dengan perkembangan perusahaan, ketersediaan data keuangan, model bisnis, hingga tujuan Anda.

Agar proses valuasi menghasilkan estimasi yang lebih akurat, memiliki data keuangan yang lengkap akan sangat membantu. Laporan laba rugi, arus kas, neraca, pertumbuhan pendapatan, hingga pengeluaran operasional merupakan informasi yang sering dijadikan dasar oleh investor maupun calon pemberi dana dalam menilai sebuah perusahaan.

Untuk memudahkan pengelolaan data keuangan tersebut, Anda dapat menggunakan Kledo, software akuntansi untuk startup. Kledo membantu startup mencatat transaksi secara otomatis, menyusun laporan keuangan sesuai standar, memantau arus kas, mengelola aset, serta menghasilkan berbagai laporan bisnis secara real-time.

Jika Anda sedang membangun startup dan ingin memiliki pencatatan keuangan yang profesional sejak awal, Anda dapat mencoba Kledo secara gratis melalui masa uji coba selama 14 hari atau menggunakan versi gratisnya.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

14 + 13 =