Apakah Anda tahu berapa keuntungan yang sebenarnya Anda dapatkan dari setiap pesanan jahit?
Jika selama ini Anda hanya melihat jumlah uang yang terkumpul di kas, angka tersebut belum tentu menunjukkan keuntungan usaha yang sebenarnya.
Karena itu, Anda perlu membuat laporan keuangan usaha jahit penting untuk membantu Anda melihat kondisi bisnis secara menyeluruh.
Lantas, bagaimana cara membuatnya? Berikut contoh laporan keuangan usaha jahit beserta transaksi dan perhitungannya yang bisa Anda jadikan referensi.
Apa Itu Laporan Keuangan Usaha Jahit?
Laporan keuangan adalah rangkuman transaksi keuangan usaha jahit Anda dalam periode tertentu yang menunjukkan pendapatan, pengeluaran, aset, kewajiban, dan modal usaha.
Laporan ini membantu Anda memahami kondisi keuangan bisnis dan mengetahui apakah bisnis menghasilkan untung.
Selain itu, laporan ini juga membantu Anda:
- Mengetahui laba atau rugi usaha.
- Memantau pemasukan dan pengeluaran.
- Mengetahui jumlah aset dan kewajiban.
- Mengontrol biaya operasional.
- Menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis.
Baca Juga: Memulai Bisnis Pakaian Custom, Bagaimana Caranya?
Apa Saja Jenis Laporan Keuangan Usaha Jahit?

Ada 4 laporan keuangan yang dapat Anda gunakan untuk memantau kondisi usaha jahit Anda, yaitu laporan laba rugi, laporan arus kas, neraca, dan laporan perubahan modal.
1. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi menunjukkan pendapatan dan biaya usaha dalam periode tertentu hingga menghasilkan laba atau rugi.
Komponennya meliputi:
- Pendapatan jasa jahit.
- Biaya bahan dan perlengkapan.
- Biaya tenaga kerja.
- Biaya operasional.
- Laba atau rugi usaha.
2. Laporan Arus Kas
Laporan arus kas menunjukkan pergerakan uang yang masuk dan keluar dari usaha.
Pada usaha jahit, kas masuk umumnya berasal dari pembayaran pelanggan, sedangkan kas keluar digunakan untuk membeli bahan, membayar gaji, listrik, dan kebutuhan lainnya.
3. Neraca
Laporan posisi keuangan menunjukkan kondisi keuangan usaha pada tanggal tertentu yang terdiri dari:
- Aset: kas, piutang, persediaan bahan, mesin jahit, dan peralatan.
- Liabilitas: utang usaha atau kewajiban lainnya.
- Ekuitas: modal yang menjadi hak pemilik.
4. Laporan perubahan modal
Laporan perubahan modal menunjukkan perubahan modal pemilik selama periode tertentu.
Perhitungannya mempertimbangkan modal awal, tambahan modal, laba atau rugi, dan prive.
Modal akhir = Modal awal + laba + tambahan modal – prive
Baca Juga: Tips Membangun Usaha Konveksi dan Raih Kesuksesan
Bagaimana Contoh Laporan Keuangan Usaha Jahit?
Berikut contoh laporan keuangan usaha jahit sederhana menggunakan satu rangkaian transaksi selama satu bulan.
Contoh ini dibuat konsisten agar setiap transaksi dapat ditelusuri hingga masuk ke laporan laba rugi, arus kas, neraca, dan perubahan modal.
Misalnya, Usaha Jahit Mawar memiliki modal awal Rp20.000.000 dan menjalankan usaha pembuatan serta permak pakaian.
Contoh Transaksi Usaha Jahit dalam Satu Bulan
Selama satu bulan, Usaha Jahit Mawar melakukan transaksi berikut:
| Transaksi | Nilai |
|---|---|
| Menerima pendapatan jasa jahit secara tunai | Rp12.000.000 |
| Menerima uang muka pelanggan untuk pesanan yang belum selesai | Rp3.000.000 |
| Membeli kain, benang, dan perlengkapan jahit secara tunai | Rp4.000.000 |
| Membayar upah penjahit | Rp3.000.000 |
| Membayar listrik dan internet | Rp750.000 |
| Membeli mesin jahit secara tunai | Rp5.000.000 |
| Membayar sewa tempat | Rp1.500.000 |
| Pemilik mengambil uang untuk kebutuhan pribadi (prive) | Rp1.000.000 |
Dari contoh di atas, uang muka pelanggan tidak langsung dianggap sebagai pendapatan jika pesanan belum dikerjakan.
Uang tersebut dicatat sebagai kewajiban atau pendapatan diterima di muka sampai jasa jahit selesai diberikan.
Begitu pula pembelian mesin jahit tidak langsung menjadi beban usaha. Mesin merupakan aset yang digunakan untuk kegiatan bisnis dan nantinya dibebankan melalui penyusutan.
Contoh Laporan Laba Rugi Usaha Jahit
Berdasarkan transaksi tersebut, misalkan dari total pembayaran pelanggan, jasa yang sudah diselesaikan selama periode berjalan bernilai Rp12.000.000.
Biaya yang terkait dengan operasional usaha terdiri dari bahan, tenaga kerja, dan biaya operasional.
Contoh laporan laba rugi:
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Pendapatan jasa jahit | Rp12.000.000 |
| Biaya bahan dan perlengkapan | Rp4.000.000 |
| Biaya tenaga kerja | Rp3.000.000 |
| Listrik dan internet | Rp750.000 |
| Sewa tempat | Rp1.500.000 |
| Total biaya | Rp9.250.000 |
| Laba bersih | Rp2.750.000 |
Cara membacanya cukup sederhana. Usaha memperoleh pendapatan jasa sebesar Rp12 juta dan mengeluarkan biaya Rp9,25 juta untuk menghasilkan pendapatan tersebut.
Dengan demikian, laba bersih sebelum memperhitungkan penyusutan mesin adalah Rp2,75 juta.
Dalam laporan yang lebih lengkap, mesin jahit perlu disusutkan sesuai masa manfaatnya. Jadi, laba akuntansi dapat berbeda dari perhitungan sederhana di atas.
Contoh Laporan Arus Kas Usaha Jahit
Laporan arus kas berfokus pada uang yang benar-benar masuk dan keluar, sehingga hasilnya tidak selalu sama dengan laba pada laporan laba rugi.
Dari transaksi sebelumnya, kas masuk terdiri dari pembayaran jasa Rp12 juta dan uang muka pelanggan Rp3 juta.
Sementara kas keluar meliputi pembelian bahan, pembayaran upah, listrik dan internet, pembelian mesin, sewa, serta prive.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Kas masuk | Rp15.000.000 |
| Pembelian bahan dan perlengkapan | (Rp4.000.000) |
| Pembayaran upah penjahit | (Rp3.000.000) |
| Listrik dan internet | (Rp750.000) |
| Pembelian mesin jahit | (Rp5.000.000) |
| Pembayaran sewa | (Rp1.500.000) |
| Prive pemilik | (Rp1.000.000) |
| Total kas keluar | (Rp15.250.000) |
| Penurunan kas | (Rp250.000) |
Jika saldo kas awal usaha sebesar Rp20.000.000, maka saldo kas akhirnya menjadi: Rp20.000.000 – Rp250.000 = Rp19.750.000
Perhatikan bahwa uang muka pelanggan sebesar Rp3 juta masuk ke arus kas karena uang tersebut sudah diterima.
Namun, uang tersebut belum menjadi pendapatan apabila pesanan belum diselesaikan. Inilah salah satu alasan mengapa pemilik usaha sebaiknya tidak hanya mengandalkan saldo kas untuk mengukur keuntungan.
Baca Juga: 5 Format Laporan Keuangan, Fungsi, dan Contohnya
Contoh Neraca Usaha Jahit
Neraca atau laporan posisi keuangan menunjukkan posisi aset, kewajiban, dan ekuitas pada akhir periode.
Misalnya, setelah memperhitungkan transaksi di atas, posisi keuangan Usaha Jahit Mawar adalah sebagai berikut:
| Aset | Nilai | Kewajiban & Ekuitas | Nilai |
|---|---|---|---|
| Kas | Rp19.750.000 | Pendapatan diterima di muka | Rp3.000.000 |
| Persediaan bahan | Rp0* | Modal pemilik | Rp20.000.000 |
| Mesin jahit | Rp5.000.000 | Laba periode berjalan | Rp2.750.000 |
| Total aset | Rp24.750.000 | Total kewajiban & ekuitas | Rp25.750.000 |
Contoh ini mengasumsikan seluruh pembelian bahan Rp4 juta telah digunakan untuk pesanan yang menghasilkan pendapatan selama periode tersebut.
Namun, angka di atas belum seimbang karena ada transaksi prive Rp1 juta yang harus mengurangi ekuitas. Setelah memperhitungkan prive:
Ekuitas = Rp20.000.000 + Rp2.750.000 – Rp1.000.000 = Rp21.750.000
Sehingga neraca menjadi:
| Aset | Nilai | Kewajiban & Ekuitas | Nilai |
|---|---|---|---|
| Kas | Rp19.750.000 | Pendapatan diterima di muka | Rp3.000.000 |
| Mesin jahit | Rp5.000.000 | Modal dan laba setelah prive | Rp21.750.000 |
| Total aset | Rp24.750.000 | Total kewajiban & ekuitas | Rp24.750.000 |
Dengan demikian, persamaan dasar akuntansi (Aset = Liabilitas + Ekuitas) sudah seimbang.
Contoh Laporan Perubahan Modal Usaha Jahit
Laporan perubahan modal menunjukkan bagaimana modal pemilik berubah selama satu periode.
Berdasarkan contoh sebelumnya, modal awal sebesar Rp20 juta bertambah karena laba usaha Rp2,75 juta, tetapi berkurang karena pemilik mengambil uang sebesar Rp1 juta untuk kebutuhan pribadi.
| Komponen | Nilai |
|---|---|
| Modal awal | Rp20.000.000 |
| Laba bersih | Rp2.750.000 |
| Prive | (Rp1.000.000) |
| Modal akhir | Rp21.750.000 |
Jadi, modal akhir Usaha Jahit Mawar adalah Rp21,75 juta.
Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Laporan Keuangan Usaha Jahit

Usaha jahit memiliki beberapa transaksi yang cukup spesifik dan perlu Anda perhatikan:
- Bedakan uang muka dan pendapatan. Penjahit pasti sering menerima DP sebelum pakaian selesai dibuat. DP tersebut menjadi kewajiban terlebih dahulu dan baru diakui sebagai pendapatan ketika kewajiban jasa telah dipenuhi sesuai ketentuan akuntansi.
- Pisahkan bahan yang dibeli dan bahan yang digunakan. Kain, benang, resleting, kancing, dan aksesoris yang masih tersimpan merupakan persediaan. Jangan langsung menganggap seluruh pembelian bahan sebagai biaya jika sebagian masih menjadi stok.
- Perhatikan pekerjaan yang belum selesai. Jika pada akhir bulan terdapat pakaian pelanggan yang masih dalam proses, biaya bahan dan tenaga kerja yang sudah digunakan dapat perlu diperhitungkan sebagai pekerjaan dalam proses, tergantung sistem pencatatan yang digunakan.
- Bedakan mesin dan perlengkapan kecil. Mesin jahit, mesin obras, atau mesin bordir yang digunakan dalam jangka panjang merupakan aset yang perlu disusutkan. Sementara perlengkapan yang sifatnya habis pakai dapat dicatat sebagai biaya atau persediaan sesuai kebijakan akuntansi usaha.
- Catat uang muka dan pelunasan berdasarkan pesanan. Ini membantu Anda mengetahui pesanan mana yang sudah dibayar, masih memiliki piutang, atau masih menyimpan kewajiban kepada pelanggan.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, laporan keuangan usaha jahit akan lebih mampu menggambarkan kondisi bisnis yang sebenarnya.
Baca Juga: Download Contoh Format Laporan Keuangan Bulanan Excel
Bagaimana Cara Menghitung Harga Jasa Jahit agar Menguntungkan?

Harga jasa jahit perlu dihitung berdasarkan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan pesanan, bukan hanya dari upah menjahit.
Dengan metode ini, Anda bisa menetapkan harga yang menutup biaya sekaligus menguntungkan.
Berikut adalah caranya:
- Hitung biaya bahan: Hitung bahan yang digunakan untuk setiap pesanan, seperti kain, benang, resleting, kancing, furing, dan aksesori lainnya.
- Hitung biaya tenaga kerja: Tentukan biaya tenaga kerja berdasarkan waktu atau tingkat pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan pesanan, termasuk proses memotong, menjahit, obras, hingga finishing.
- Alokasikan biaya overhead: Masukkan biaya tidak langsung seperti listrik, air, sewa tempat, perawatan, dan penyusutan mesin. Biaya ini dapat dialokasikan ke setiap pesanan berdasarkan jam kerja mesin, jam kerja tenaga kerja, atau metode lain yang konsisten.
- Tentukan margin keuntungan: Setelah mengetahui total biaya, tambahkan margin keuntungan yang ingin diperoleh untuk menentukan harga jasa.
- Sesuaikan dengan jenis dan tingkat kesulitan jahitan: Harga jasa untuk permak sederhana tentu berbeda dengan pembuatan kebaya, jas, seragam dalam jumlah besar, atau pakaian dengan detail bordir dan desain yang rumit.
Lalu, Anda bisa menghitung harga jasa menggunakan rumus:
Harga jasa = Total biaya per pesanan + Margin keuntungan
Sebagai contoh, biaya untuk menyelesaikan satu pakaian terdiri dari bahan pendukung Rp30.000, tenaga kerja Rp75.000, dan alokasi overhead Rp25.000. J
ika usaha menargetkan keuntungan Rp50.000, maka harga jasa yang dikenakan adalah: Rp30.000 + Rp75.000 + Rp25.000 + Rp50.000 = Rp180.000
Baca Juga: 5 Persiapan yang Diperlukan Dalam Membuat Laporan Keuangan
Kesimpulan
Laporan keuangan membantu pemilik usaha jahit mengetahui kondisi bisnis secara lebih jelas, mulai dari pendapatan, biaya, laba, arus kas, hingga aset dan kewajiban.
Dengan pencatatan yang rutin, Anda juga dapat mengetahui apakah harga jasa yang ditetapkan sudah mampu menutup biaya dan menghasilkan keuntungan.
Agar pencatatan tidak perlu dilakukan secara manual, Anda dapat menggunakan Kledo, software akuntansi yang membantu mencatat transaksi dan mengelola keuangan bisnis dalam satu sistem.
Coba Kledo sekarang lewat tautan ini.
- Contoh Laporan Keuangan Usaha Jahit dan Perhitungannya - 3 September 2026
- Cara Menghitung Goodwill Beserta Contoh Soal dan Jawabannya - 3 September 2026
- Bincang Kledo: Rahasia Business Owner yang Uangnya Terus Tumbuh - 2 September 2026
