Perusahaan manufaktur modern yang ingin tetap kompetitif di pasar yang semakin ketat biasanya menghadapi berbagai masalah atau tantangan.
Masalah itu bisa seperti kesulitan dalam mencari tenaga kerja terampil, pengelolaan persediaan, atau tantangan baru seperti menguasai otomatisasi dan AI.
Untuk bisa menghadapi masalah mereka, perusahaan manufaktur harus bisa memahami permasalahan ini dan mencari strategi yang tepat.
Artikel ini akan membahas 10 masalah perusahaan manufaktur dan solusi mengatasinya, serta prospek industri ini di tahun 2026 berdasarkan artikel dari Deloitte.
10 Masalah Perusahaan manufaktur dan Solusinya
Masalah 1: Kurangnya Tenaga Kerja Terampil
Salah satu masalah perusahaan manufaktur yang paling umum adalah kekurangan tenaga kerja terampil, terutama untuk mengimbangi perkembangan teknologi dan otomatisasi di dunia manufaktur.
Kekurangan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:
- Tenaga kerja yang menua
- Persaingan ketat untuk mendapatkan pekerja yang melek teknologi
- Ketakutan bahwa teknologi akan menggantikan pekerja
Selain itu, menurut survei Deloitte, lebih dari 200 perusahaan manufaktur di AS kesulitan membekali pekerja dengan kemampuan dan pengetahuan untuk memaksimalkan potensi manufaktur.
Solusi
Untuk mengatasi masalah ini, banyak perusahaan melakukan hal berikut:
- Memberikan gaji dan tunjangan yang kompetitif sesuai tren industri
- Berinvestasi dalam pelatihan teknologi untuk meningkatkan keterampilan karyawan agar siap menghadapi era manufaktur berbasis AI.
- Bekerja sama dengan komunitas lokal dan institusi pendidikan misalnya melalui program magang atau pelatihan kerja, untuk menarik lebih banyak tenaga kerja terampil.
Masalah 2: Inflasi
Inflasi juga menjadi masalah untuk perusahaan manufaktur.
Ketika harga naik di seluruh sektor ekonomi, perusahaan manufaktur terpaksa menaikkan harga produk maupun menekan biaya untuk mempertahankan margin keuntungan.
Biasanya, inflasi memengaruhi biaya bahan baku, transportasi, hingga kenaikan upah tenaga kerja.
Solusi
Untuk mengatasi ini, banyak perusahaan mengambil langkah seperti:
- Mengevaluasi ulang pengeluaran seperti menegosiasikan ulang kontrak dengan pemasok atau mengaudit rantai pasok.
- Menggunakan teknologi AI untuk menganalisis berbagai data, seperti logistik, inspeksi kualitas, dan harga pasar secara real-time, sehingga perusahaan dapat mengoptimalkan biaya operasional.
- Jika harga kompetitor juga naik, perusahaan bisa menyesuaikan harga tanpa kehilangan pelanggan.
Masalah 3: Manajemen Persediaan dan Proyek

Perusahaan manufaktur harus bisa mengelola persediaan dengan efektif karena kaitannya dengan ketersediaan stok dan efisiensi biaya.
Mereka harus menyusun perencanaan, koordinasi, dan pelaksanaan proses produksi agar tetap sesuai jadwal dan anggaran.
Masalahnya, manajemen persediaan ini cukup menantang karena beberapa faktor eksternal:
- Fluktuasi permintaan
- Gangguan rantai pasok
- Perlunya koordinasi dengan banyak pihak
Solusi
Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan dapat menggunakan sistem manajemen persediaan dan proyek yang terintegrasi.
Sistem ini membantu:
- Mengotomatiskan tugas
- Memusatkan data di satu tempat
- Mencegah potensi kekurangan stok
- Membaca tren dan memberikan prediksi
Baca Juga: Pengertian Sistem Informasi Manufaktur, Elemen, dan Tips Mengelolanya
Masalah 4: Keselamatan Kerja
Aktivitas di industri manufaktur sering melibatkan mesin berat, bahan berbahaya, dan pekerjaan fisik yang intens, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan bagi karyawan.
Perusahaan tidak hanya memiliki tanggung jawab moral, tetapi juga wajib mematuhi regulasi keselamatan kerja.
Kegagalan dalam memenuhi standar ini dapat menyebabkan kecelakaan, cedera, hingga risiko hukum dan finansial.
Solusi
Untuk mengatasi ini, perusahaan perlu:
- Menyelenggarakan pelatihan keselamatan secara rutin
- Menyediakan alat pelindung diri (APD) yang memadai
- Memantau dan memperbarui prosedur keselamatan secara berkala
- Mengotomatisasi pekerjaan berisiko tinggi
- Berinvestasi pada teknologi untuk memprediksi perawatan alat dan mengetahui potensi kerusakan
Masalah 5: Tren Konsumerisme
Perubahan perilaku konsumen menjadi masalah perusahaan manufaktur yang tidak bisa diabaikan.
Dulu, konsumen cenderung mencari produk dengan harga murah, sehingga banyak perusahaan memilih produksi dengan biaya rendah.
Namun, saat ini konsumen lebih peduli pada kualitas, proses produksi yang etis, serta transparansi produk.
Mereka ingin mengetahui bagaimana produk dibuat, bukan hanya hasil akhirnya.
Solusi:
Untuk menghadapi masalah ini, perusahaan perlu:
- Melakukan riset pasar secara rutin
- Membangun brand yang terpercaya
- Mengutamakan produk yang ramah lingkungan
- Menjaga kualitas produksi melalui quality control
- Meningkatkan kepuasan pelanggan
Masalah 6: Skalabilitas Bisnis

Menentukan timing yang tepat untuk mengembangkan bisnis adalah hal yang sedikit sulit.
Jika terlalu cepat melakukan ekspansi, perusahaan bisa kewalahan. Sebaliknya, jika terlambat, peluang pasar bisa hilang.
Solusi
Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan bisa:
- Pahami target pasar dan posisi bisnis
- Pastikan kualitas produk sudah optimal
- Gunakan analisis product life cycle management (PLCM) untuk melihat performa produk
Jika ada produk yang tidak laku, bukan berarti bisnis tidak siap berkembang, bisa jadi produk tersebut perlu dihentikan agar tidak menumpuk menjadi dead stock.
Baca Juga: Siklus Akuntansi Bisnis Manufaktur dan Bedanya dengan Bisnis Lain
Masalah 7: Globalisasi
Globalisasi juga menjadi masalah perusahaan manufaktur yang kompleks. Di satu sisi, perusahaan memiliki lebih banyak pilihan pemasok dan akses ke pasar yang lebih luas.
Namun di sisi lain, risiko dalam rantai pasok juga meningkat, dan persaingan menjadi lebih ketat karena kompetitor memiliki peluang yang sama.
Solusi
Untuk menghadapi masalah akibat globalisasi:
- Mulai menjangkau pasar internasional
- Memanfaatkan kehadiran digital (online presence)
- Menggunakan tools untuk mengelola logistik dan regulasi antarnegara
Selain itu, perusahaan perlu menyederhanakan proses produksi, karena rantai pasok yang lebih besar biasanya membuat waktu produksi menjadi lebih panjang.
Masalah 8: Keterbatasan Kapasitas Produksi
Keterbatasan kapasitas menjadi masalah yang sering muncul saat bisnis berkembang.
Jika produksi dipaksakan melebihi kapasitas, dapat terjadi bottleneck yang menyebabkan keterlambatan, ketidakpuasan pelanggan, hingga hilangnya peluang bisnis.
Solusi
Untuk mengatasi hal ini, perusahaan perlu:
- Memantau KPI seperti lead time dan tingkat perputaran produksi
- Mengidentifikasi hambatan menggunakan sistem terintegrasi
- Memahami kondisi operasional secara menyeluruh (produksi, persediaan, dan penjualan)
Dengan visibilitas yang lebih baik, perusahaan dapat menentukan langkah perbaikan yang tepat untuk menangani volume pesanan yang lebih besar.
Masalah 9: Biaya Pemeliharaan dan Overhead
Biaya pemeliharaan dan overhead menyerap sebagian besar anggaran karena mesin dan peralatan harus selalu dalam kondisi optimal.
Jika biaya-biaya ini tidak dikontrol, bukan tidak mungkin laba akan habis tergerus.
Solusi
Pendekatan yang bisa dilakukan antara lain:
- Melakukan pemantauan performa secara rutin
- Menggunakan teknologi untuk mendeteksi potensi kerusakan lebih awal
- Menerapkan predictive maintenance dengan bantuan IoT dan AI
Dengan pendekatan proaktif, perusahaan dapat menghindari kerusakan besar yang mahal dan mengurangi downtime mesin.
Masalah 10: Otomatisasi
Otomatisasi menjadi salah satu solusi sekaligus tantangan bagi perusahaan manufaktur.
Banyak orang menganggap otomatisasi hanya sebatas penggunaan robot, padahal cakupannya lebih luas, termasuk pengolahan data, kontrol kualitas, dan manajemen operasional.
Implementasi otomatisasi dapat dilakukan melalui:
- Sistem berbasis cloud
- Tools berbasis AI untuk analisis dan monitoring
- Penggunaan teknologi seperti barcode scanner untuk pelacakan inventaris
Sayangnya, biaya investasi awal untuk otomatisasi cukup besar, belum lagi perusahaan masih harus melatih karyawan untuk menggunakannya. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkann otomatisasi secara strategis.
Solusi
Untuk menerapkan otomatisasi yang lebih baik, perusahaan bisa:
- Prioritaskan proses yang memakan waktu, rawan kesalahan, dan repetitif untuk diotomatisasi terlebih dahulu.
- Implementasi otomatisasi secara bertahap di satu proses/divisi dulu. Baru jika sukses, segera scale up.
- Hitung ROI sebelum investasi
Baca Juga: Manufacturing Overhead Control: Pembahasan Lengkap dan Tipsnya
Prospek Industri Manufaktur di 2026

Bagian ini kami rangkum dari artikel Deloitte berjudul 2026 Manufacturing Industry Outlook.
Secara umum, industri manufaktur menghadapi kondisi yang menantang pada 2025 yang ditandai dengan penurunan aktivitas, kenaikan biaya, dan ketidakpastian perdagangan global.
Namun, di tahun 2026 tetap ada peluang pertumbuhan jika perusahaan mampu beradaptasi dengan strategi dan teknologi yang tepat.
1. Fokus Utama: Teknologi dan Strategi Baru
Perusahaan manufaktur perlu:
- Mengadopsi teknologi seperti AI, otomatisasi, dan data analytics
- Meningkatkan fleksibilitas dan ketahanan operasional
Sekitar 80% perusahaan berencana meningkatkan investasi di smart manufacturing, karena dianggap sebagai kunci daya saing ke depan.
2. Smart Manufacturing Jadi Prioritas
Smart manufacturing (manufaktur berbasis teknologi) akan semakin dominan, karena membawa berbagai manfaat seperti:
- Peningkatan produktivitas
- Efisiensi operasional lebih tinggi
- Kapasitas produksi lebih optimal
AI juga mulai berkembang ke tahap lebih lanjut (agentic AI), yang bisa:
- Mengambil keputusan otomatis
- Mengoptimalkan produksi
- Meningkatkan pengalaman pelanggan
3. Rantai Pasok Masih Tidak Stabil
Supply chain tetap menjadi tantangan utama karena:
- Ketidakpastian kebijakan perdagangan
- Tarif dan biaya input yang meningkat
- Risiko gangguan global
Sebanyak 78% produsen masih menganggap ketidakpastian perdagangan sebagai masalah utama.
Baca Juga: Jenis Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur dan Contohnya
4. Investasi dan Peluang Pertumbuhan
Ada peluang pertumbuhan dari:
- Permintaan tinggi untuk semikonduktor
- Pertumbuhan data center dan teknologi digital
Jika kebijakan lebih stabil, investasi manufaktur berpotensi meningkat.
5. Aftermarket Services Jadi Sumber Nilai Baru
Layanan purna jual (aftermarket) semakin penting karena:
- Meningkatkan pengalaman pelanggan
- Membuka sumber pendapatan tambahan
Perusahaan manufaktur juga bisa menggunakan AI untuk prediksi perawatan, otomatisasi layanan, dan juga mengoptimasi spare part dan juga layanan.
7. Peran AI vs Manusia
Meskipun AI berkembang pesat, tapi sebagian besar pekerjaan manufaktur tetap dilakukan manusia (±81%). Tidak hanya itu, kemampuan seperti kreativitas dan kolaborasi yang manusia miliki sulit digantikan oleh AI.
Baca Juga: Mengetahui Apa Itu Assemble To Order (ATO) dalam Proses Manufaktur
Kesimpulan
Jadi, itulah 10 masalah yang umum di industri manufaktur dan cara mengatasinya.
Dengan mempelajari daftar di atas, Anda bisa mengidentifikasi berbagai tantangan utama yang dihadapi industri manufaktur dengan mudah.
Pada praktiknya, mengetahui risiko secara teori tidak cukup. Jika bisnis Anda tidak cukup cepat beradaptasi, risiko tersebut tetap bisa berdampak besar dan sulit dihindari.
Dengan mengadopsi software akuntansi manufaktur cloud yang memiliki fitur inventaris ke dalam bisnis seperti Kledo, Anda bisa mengidentifikasi berbagai potensi masalah dan mengotomatiskan berbagai tugas lebih awal.
Coba gratis Kledo dan rasakan bagaimana teknologi ini dapat membantu bisnis manufaktur Anda.
- 5 Contoh Soal Rekonsiliasi Bank dan Jurnal Penyesuaiannya - 27 April 2026
- 10 Masalah Perusahaan Manufaktur, Solusi, dan Prospeknya - 27 April 2026
- Cara Mudah Membuat Proforma Invoice untuk Bisnis - 27 April 2026
