Proses audit laporan keuangan merupakan salah satu cara untuk menilai apakah informasi keuangan perusahaan telah disajikan secara wajar dan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
Tentu saja, setiap perusahaan berharap memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) karena menunjukkan bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam semua aspek yang material.
Namun, dalam praktiknya, auditor tidak selalu memberikan opini tersebut. Terkadang auditor menemukan masalah tertentu yang cukup signifikan sehingga mengharuskan mereka memberikan opini Wajar dengan Pengecualian (WDP).
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan opini audit Wajar dengan Pengecualian? Apa saja penyebab auditor mengeluarkan opini ini, bagaimana dampaknya bagi perusahaan, dan langkah apa yang perlu dilakukan untuk memperbaikinya? Simak pembahasannya secara lengkap dalam artikel berikut.
Apa Itu Opini Audit Wajar dengan Pengecualian?
Opini audit “Wajar Dengan Pengecualian” (WDP atau qualified opinion) adalah salah satu jenis opini yang bisa diberikan auditor independen atas laporan keuangan suatu entitas, selain opini Wajar Tanpa Pengecualian (unqualified/clean opinion), Tidak Wajar (adverse opinion), dan Tidak Memberikan Pendapat (disclaimer of opinion).
Secara umum, opini ini diberikan ketika auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan, secara keseluruhan, sudah disajikan secara wajar sesuai standar akuntansi yang berlaku, kecuali untuk dampak dari satu atau beberapa hal tertentu yang menjadi dasar pengecualian tersebut.
Ada dua kondisi utama yang biasanya mendasari munculnya opini ini:
- Auditor tidak memiliki cukup bukti yang kuat dan dapat dipercaya, atau ada pembatasan dalam pelaksanaan audit yang sifatnya material (cukup besar). Tapi, pembatasan ini tidak sampai memengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan. Akibatnya, auditor tidak bisa memberikan opini “wajar tanpa pengecualian”.
- Auditor yakin bahwa laporan keuangan mengandung penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum (PABU), dan dampaknya material. Tapi dampaknya tidak sampai memengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan. Penyimpangan ini bisa berupa pengungkapan informasi yang kurang lengkap, atau perubahan prinsip akuntansi yang tidak dijelaskan dengan baik.
Baca Juga: Kenali Berbagai Istilah Audit dalam Laporan Keuangan Berikut Ini
Apa Saja Opini Audit Selain Wajar dengan Pengecualian?

Selain opini Wajar dengan Pengecualian, ada 4 opini lainnya yang bisa diberikan oleh auditor:
1. Opini Wajar tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)
Ini adalah opini yang auditor berikan setelah menyelesaikan proses audit sesuai standar, dan tidak menemukan adanya pembatasan dalam lingkup audit, tidak ada pengecualian yang signifikan, dan laporan konsisten menerapkan prinsip akuntansi.
Opini artinya laporan keuangan memiliki informasi yang lengkap, dibuat dengan jujur, dan tidak meragukan.
Opini ini bisa diberikan jika memenuhi kondisi seperti:
- Laporan keuangan sesuai prinsip akuntansi
- Adanya penjelasan jika terjadi perubahan penerapan prinsip akuntansi
- Ada catatan yang mendukung dengan penjelasan yang cukup
2. Opini Wajar tanpa Pengecualian dengan bahasa penjelas
Pendapat ini diberikan apabila auditor merasa bahwa laporan keuangan sudah menyajikan secara wajar, tetapi ada keadaan atau kondisi tertentu yang memerlukan penjelasan.
Kondisi tertentu ini antara lain:
- Sebagian pendapat auditor berdasarkan laporan auditor independen lain
- Ada penyimpangan dari prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh profesi atau pihak berwenang.
- Laporan keuangan dipengaruhi ketidakpastian material.
- Auditor meragukan kemampuan satuan usaha dalam going concern
- Auditor menemukan perubahan material dalam penggunaan prinsip dan metode akuntansi
3. Pendapat tidak wajar
Pendapat tidak wajar (adverse opinion) menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas secara wajar.
Di sini, auditor harus menjelaskan alasan mengapa memberikan pendapat tersebut.
Jika mendapatkan opini ini, berarti laporan keuangan berisi informasi yang tidak dapat dipercaya, sehingga tidak bisa dipakai untuk pengambilan keputusan.
4. Tidak memberikan pendapat
Auditor juga bisa memilih untuk tidak memberikan pendapat jika:
- Ada pembatasan terhadap lingkup audit, baik oleh klien maupun karena kondisi tertentu, sehingga auditor tidak bisa mendapat bukti audit yang cukup
- Auditor yakin bahwa ada penyimpangan yang material dari prinsip akuntansi berterima umum
Baca Juga: Mengenal Prosedur Audit Keuangan dan Tahapannya dalam Bisnis
Apa Penyebab Opini Audit Wajar dengan Pengecualian?

Seperti yang kami jelaskan sebelumnya, ada dua kondisi utama yang mendorong auditor untuk memberikan opini wajar dengan pengecualian.
Berikut merupakan penjelasan lebih lengkapnya:
1. Adanya kesalahan penyajian (misstatement) material yang tidak pervasif
Ini terjadi ketika auditor menemukan ada bagian dari laporan keuangan yang tidak sesuai standar akuntansi, tapi dampaknya terbatas pada area tertentu saja, tidak merusak gambaran keseluruhan laporan keuangan.
Contohnya:
- Kebijakan akuntansi yang diterapkan tidak sesuai standar, misalnya metode penyusutan aset tetap atau metode penilaian persediaan yang tidak konsisten dengan SAK.
- Kesalahan estimasi akuntansi yang material, misalnya cadangan kerugian piutang yang dianggap auditor kurang memadai.
- Pengungkapan (disclosure) yang tidak lengkap atau tidak sesuai ketentuan pada catatan atas laporan keuangan, untuk pos tertentu.
2. Pembatasan lingkup audit (scope limitation)
Ini terjadi ketika auditor tidak bisa memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk suatu hal, sehingga tidak bisa memastikan apakah ada kesalahan penyajian material atau tidak pada area tersebut.
Contoh:
- Auditor baru ditunjuk setelah periode tutup buku, sehingga tidak bisa melakukan observasi langsung terhadap stock opname/persediaan awal, dan tidak ada prosedur alternatif yang memadai.
- Catatan akuntansi klien hilang, rusak, atau tidak lengkap.
- Manajemen membatasi akses auditor terhadap informasi atau pihak tertentu.
- Auditor tidak bisa memperoleh konfirmasi pihak ketiga (misalnya konfirmasi piutang atau saldo bank), dan prosedur alternatif tidak mencukupi.
Baca Juga: 16 Jenis Audit yang Biasanya Ada dalam Sebuah Bisnis
Apa Pengaruh Opini Audit Wajar dengan Pengecualian?
Opini audit wajar dengan pengecualian menunjukkan bahwa ada satu atau beberapa area spesifik yang menjadi pengecualian, sementara bagian laporan keuangan lainnya tetap dianggap wajar.
Jadi umumnya, tidak terdapat pengaruh negatif yang signifikan terhadap perusahaan, tidak seperti opini Tidak Wajar atau Tidak Memberikan Pendapat.
Berikut penjelasanl lebih lengkapnya:
1. Dampak terhadap pengguna laporan keuangan
Investor, kreditor, dan pemangku kepentingan lain biasanya jadi lebih hati-hati dalam menilai kondisi keuangan perusahaan, terutama pada area/pos yang menjadi dasar pengecualian auditor.
2. Terhadap keputusan pihak ketiga
Bank atau kreditor bisa mempertimbangkan ulang syarat pinjaman, karena opini ini sering dianggap sebagai sinyal bahwa ada masalah pada bagian tertentu dari laporan keuangan, meski tidak seserius opini adverse.
3. Terhadap nilai perusahaan
Menurut penelitian dari Linh Nguyễn Văn, Dang Ngoc Hung, dan Nguyen Thai Mai Lan dalam jurnal The Impact of Qualified Opinions and Audit Firm’s Reputation on Enterprise Value in Vietnam, opini audit wajar dengan pengecualian memberikan dampak negatif pada nilai perusahaan.
Nilai perusahaan di sini adalah ukuran seberapa besar nilai ekonomis perusahaan tersebut di mata pasar dan investor, dilihat dari tiga sudut: harga sahamnya langsung, rasio Tobin’s Q, dan estimasi nilai pasar keseluruhan perusahaan (ekuitas + utang).
Namun, jika reputasi auditor dari Big Four dimasukkan, pengaruhnya pada rasio Tobin’s Q menjadi tidak signifikan.
4. Terhadap reputasi manajemen dan tata kelola
Opini audit ini bisa memunculkan pertanyaan soal kualitas pengendalian internal, kebijakan akuntansi, atau transparansi manajemen perusahaan.
Baca Juga: Berapa Tarif Jasa Audit Laporan Keuangan? Ini Penjelasannya
Apa yang Harus Dilakukan Jika Mendapat Opini Audit Wajar dengan Pengecualian?

Jika perusahaan menerima opini WDP, berikut beberapa langkah yang sebaiknya Anda lakukan:
1. Pahami alasan auditor
Langkah pertama adalah mencari tahu mengapa auditor memberikan pengecualian. Anda bisa mempelajari laporan auditor independen yang menjelaskan dasar pemberian opini WDP.
Auditor biasanya menjelaskan penyebab pengecualian, seperti:
- Ketidaklengkapan bukti audit
- Kesalahan pencatatan akun tertentu
- Ketidaksesuaian penerapan standar akuntansi
- Keterbatasan ruang lingkup audit
- Pengungkapan informasi yang kurang memadai
2. Evaluasi dampak terhadap laporan keuangan
Setelah mengetahui penyebabnya, lakukan analisis mengenai dampak temuan tersebut terhadap pos-pos laporan keuangan, kinerja perusahaan, serta kepercayaan investor, kreditur, atau pemangku kepentingan lainnya.
Evaluasi ini membantu manajemen menentukan tingkat prioritas perbaikan yang harus dilakukan.
3. Lakukan koreksi dan penyesuaian
Jika pengecualian muncul akibat kesalahan pencatatan atau penerapan standar akuntansi yang kurang tepat, segera lakukan koreksi jurnal yang diperlukan, penyesuaian saldo akun terkait, perbaikan metode pengakuan atau pengukuran transaksi, dan penyempurnaan pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan.
Segera lakukan perbaikan agar masalah yang sama tidak kembali muncul pada periode audit berikutnya.
4. Perkuat sistem pengendalian internal
Banyak kasus opini WDP berakar pada lemahnya pengendalian internal perusahaan.
Oleh karena itu, perusahaan perlu:
- Meninjau kembali prosedur akuntansi dan keuangan
- Memperjelas pemisahan tugas (segregation of duties)
- Meningkatkan proses dokumentasi transaksi
- Melakukan rekonsiliasi secara berkala
- Mengembangkan sistem monitoring dan pengawasan yang lebih efektif
5. Tingkatkan kualitas dokumentasi dan bukti transaksi
Auditor sering memberikan pengecualian karena tidak memperoleh bukti audit yang memadai.
Untuk mengatasinya, perusahaan harus memastikan bahwa seluruh transaksi memiliki dokumen pendukung yang lengkap, termasuk arsip, kontrak, faktur, dan dokumen perpajakan.
6. Libatkan tim akuntansi dan manajemen secara aktif
Perbaikan pasca-audit tidak hanya menjadi tanggung jawab bagian keuangan, tapi juga manajemen.
Libatkan tim Anda untuk:
- Menyusun rencana tindakan perbaikan (action plan)
- Menetapkan target penyelesaian temuan audit
- Memantau implementasi rekomendasi auditor
- Mengevaluasi hasil perbaikan secara berkala
7. Persiapkan audit berikutnya lebih awal
Untuk periode audit selanjutnya, persiapkan lebih awal agar perusahaan bisa mendapatkan opini Wajar tanpa Pengecualian. Agar mudah, lakukan audit internal secara berkala dan review laporan keuangan sebelum audit eksternal.
Baca Juga: Kertas Kerja Audit: Pengertian, Komponen, Contoh dan Templatenya
Kesimpulan
Opini Wajar dengan Pengecualian adalah kesimpulan auditor independen yang menyatakan bahwa laporan keuangan sudah disajikan secara wajar dan sesuai standar akuntansi yang berlaku. Namun, ada pengecualian pada pos atau transaksi tertentu yang tidak sesuai standar atau karena pembatasan audit.
Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami penyebab pengecualian, melakukan koreksi yang diperlukan, memperkuat pengendalian internal, serta meningkatkan kualitas dokumentasi dan proses pelaporan keuangan.
Untuk mendukung pengelolaan keuangan yang lebih akurat dan terdokumentasi dengan baik, perusahaan dapat memanfaatkan software akuntansi seperti Kledo.
Dengan fitur pencatatan otomatis, manajemen dokumen transaksi, rekonsiliasi bank, serta penyajian laporan keuangan yang sesuai standar akuntansi, Kledo membantu bisnis mengurangi kesalahan pencatatan dan mempersiapkan proses audit secara lebih efektif.
Coba Kledo sekarang, gratis lewat tautan ini.
