Apa Itu Akuntansi Normatif dan Positif? Mana yang Lebih Baik?

akuntansi normatif dan positif banner

Dalam akuntansi, ada beberapa teori yang perlu Anda ketahui seperti teori positif dan teori normatif.

Memahami teori positif membantu memprediksi bagaimana metode akuntansi memengaruhi harga saham atau pilihan manajer, sementara teori normatif memandu apa yang terbaik bagi para pemangku kepentingan.

Bahkan dengan menggabungkan keduanya, perusahaan akan bisa menjalankan akuntansi yang berlandaskan kondisi bisnis saat ini sambil berupaya mencapai standar pelaporan keuangan yang berkualitas tinggi.

Artikel ini akan membahas teori akuntansi positif dan normatif yang kami rangkum dari jurnal “Positive and Normative Accounting Theory: Definition and Development” oleh Patty et al. (2021).

Apa Itu Teori Akuntansi Normatif?

Teori akuntansi normatif berfokus pada “apa yang seharusnya dilakukan” oleh akuntan.

Teori ini tidak menggambarkan realita, melainkan memberikan resep atau pedoman tentang cara terbaik dalam menyajikan informasi keuangan.

Contohnya, teori normatif menghasilkan pernyataan bahwa aset tetap seharusnya dinilai dan dilaporkan berdasarkan biaya historis (historical cost).

Karakteristik teori normatif adalah:

  • Bersifat mengatur: Tidak menjelaskan apa yang terjadi, melainkan menentukan apa yang harus terjadi. Misalnya, aset tetap seharusnya dinilai dan dilaporkan berdasarkan biaya historis.
  • Bersifat Deduktif: Teori normatif disebut a priori karena kesimpulannya didapat dari logika dan nilai, bukan dari pengamatan empiris. Ia berangkat dari tujuan yang sudah ditetapkan, lalu menurunkan aturan-aturan darinya.
  • Sarat Nilai: Teori normatif penuh dengan penilaian subjektif karena menentukan mana yang “lebih baik” atau “lebih tepat” dalam praktik akuntansi.

Teori normatif berkembang pada periode 1956–1970, yang disebut sebagai normative period atau periode formatif, di mana akuntansi berusaha menetapkan norma-norma untuk praktik akuntansi terbaik.

kledo banner 3

Baca Juga: Kerangka Konseptual Akuntansi: Arti dan Pembahasan Lengkapnya

Contoh Teori Akuntansi Normatif

Berikut beberapa contoh pernyataan yang dihasilkan teori normatif:

1. Pencatatan Aset Tetap

Teori normatif: “Aset tetap seharusnya dicatat berdasarkan biaya historis (historical cost) dan disusutkan secara sistematis selama umur manfaatnya.”

Misalnya, PT Liong membeli mesin seharga Rp200 juta dengan umur manfaat 10 tahun.

Teori normatif menetapkan bahwa mesin ini harus dicatat Rp200 juta dan disusutkan Rp20 juta per tahun, bukan dinilai ulang setiap tahun mengikuti harga pasar.

2. Pengakuan Pendapatan

Teori normatif: “Pendapatan seharusnya diakui ketika sudah direalisasikan dan sudah diperoleh, bukan saat uang diterima.”

Misalnya, CV Pembangunan Negeri menyelesaikan proyek gedung senilai Rp1 miliar pada Desember 2024, tetapi pembayaran baru diterima Februari 2025.

Teori normatif menyatakan pendapatan harus diakui pada Desember 2024 (saat pekerjaan selesai), bukan Februari 2025 (saat uang masuk). Ini karena prinsip basis akrual ditetapkan sebagai norma terbaik.

3. Prinsip Konservatisme

“Akuntan seharusnya bersikap konservatif: akui kerugian lebih awal, tapi tunda pengakuan keuntungan sampai benar-benar terealisasi.”

Misalnya, jika stok barang di bisnis Anda kemungkinan nilainya turun, perlakuan normatif akan menganjurkan akuntan untuk langsung mencatat kerugian di saat itu juga.

Contoh lain, jika Anda memiliki tanah yang kemungkinan nilainya naik, maka perlakuan normalif melarang untuk mengakui keuntungannya sampai benar-benar terjual.

Baca Juga: Pahami Bagaimana Sejarah Akuntansi Dunia dan Indonesia

Kelemahan Teori Normatif

akuntansi normatif dan positif 1

Jurnal ini juga menjelaskan mengapa teori normatif akhirnya digantikan oleh teori positif.

Ada dua kelemahan utama dari teori yang disampaikan oleh jurnal:

1. Tidak Bisa Diuji Secara Empiris

Teori normatif tidak bisa dibuktikan benar atau salah melalui penelitian karena ia berbicara tentang “apa yang seharusnya”, bukan “apa yang terjadi”.

Analoginya seperti ini: Kita tidak bisa membuktikan secara ilmiah apakah “semua orang seharusnya jujur” itu benar atau salah, karena itu adalah pernyataan nilai, bukan fakta yang bisa diuji.

2. Sulit Mendapat Kesepakatan Umum

Karena berbasis nilai dan pendapat subjektif, sulit sekali mendapat satu teori normatif yang disepakati semua pihak.

Misalnya ketika kita berdebat tentang “mana masakan terenak di dunia?”. Setiap orang punya jawaban berbeda karena itu soal selera dan nilai, bukan fakta objektif.

Baca Juga: Mengenal Akuntansi Anglo Saxon dan Sejarahnya di Indonesia

Teori Akuntansi Positif

Teori Akuntansi Positif (TAP) lahir karena teori normatif gagal menjelaskan fenomena nyata di dunia akuntansi.

TAP bertujuan untuk menjelaskan mengapa suatu praktik akuntansi dilakukan, dan memprediksi apa yang akan terjadi jika manajer membuat keputusan akuntansi tertentu.

Dasar utama teori ini adalah asumsi bahwa setiap individu bertindak berdasarkan kepentingan diri sendiri (self-interest / opportunistic behavior).

Teori positif mulai berkembang sejak tahun 1970 hingga sekarang, diprakarsai oleh Watts dan Zimmerman.

Baca Juga: Mental Accounting: Pengertian, Cara Menghindari, dan Contohnya

Kelemahan Teori Akuntansi Positif

TAP memiliki beberapa kelemahan, seperti:

1. Mengklaim Bebas Nilai, Padahal Tidak

TAP mengklaim dirinya value-free (bebas nilai) dan murni ilmiah, tetapi kenyataannya tidak demikian.

Teori akuntansi positif yang mengklaim bebas nilai sebenarnya memiliki asal-usul, pemikiran, dan ideologi normatif.

Dalam TAP, seringkali tersembunyi bias ideologi konservatif dalam hasil kebijakan akuntansi.

Misalnya, TAP mengasumsikan bahwa semua manajer bertindak untuk kepentingan diri sendiri (self-interest).

Asumsi ini sendiri sudah subjektif karena tidak semua manajer oportunistik. Ada manajer yang jujur dan mengutamakan kepentingan perusahaan.

2. Tidak Memberikan Solusi atau Rekomendasi

TAP hanya menjelaskan dan memprediksi, tetapi tidak memberikan jawaban tentang apa yang harus dilakukan.

Ini adalah kelemahan terbesar dari teori ini.

3. Mengabaikan Dimensi Sosial dan Etika

Sterling (1990) dalam jurnal Kavrar mengkritik:

Pencapaian positif dan nyata dari TAP tidak akan pernah ada dan akan terus menjadi nol, karena TAP mencoba mendefinisikan ulang masalah fundamental pemikiran akuntansi secara radikal namun mengabaikan dimensi penting lainnya.

Misalnya, sebuah perusahaan tambang memilih metode akuntansi yang meminimalisir biaya lingkungan yang dilaporkan, sehingga laba tampak lebih besar.

TAP bisa menjelaskan bahwa ini terjadi karena political cost hypothesis, yaitu perusahaan ingin tampak lebih menguntungkan di mata investor.

Tapi, TAP mengabaikan dampak lingkungan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan kerugian masyarakat sekitar.

Baca Juga: 10 Konsep Dasar Akuntansi Ini Wajib Dipahami, Penting!

Contoh Teori Akuntansi Positif

1. Hipotesis Rencana Bonus

Pada dasarnya, manajer yang gajinya terikat pada bonus akan cenderung memilih metode akuntansi yang menaikkan laba agar bonusnya lebih besar.

Contoh mudah:

Pak Budi adalah direktur sebuah perusahaan. Kontraknya menyatakan bahwa ia mendapat bonus 5% dari laba bersih perusahaan.

Misalnya, jika laba perusahaan Rp1 miliar, bonus yang akan ia dapatkan adalah Rp50 juta. Jika laba Rp2 miliar, bonusnya Rp100 juta.

Maka, Pak Budi akan memilih metode akuntansi yang membuat laba terlihat lebih besar, misalnya:

  • Memilih metode depresiasi garis lurus (menghasilkan beban lebih kecil tiap tahun) daripada metode saldo menurun
  • Mencatat pendapatan lebih awal meskipun belum sepenuhnya terealisasi

2.Hipotesis Perjanjian Utang

Ide dasarnya adalah bahwa sebuah perusahaan yang memiliki banyak utang dan mendekati batas rasio keuangan yang diperjanjikan dengan bank akan cenderung memilih metode akuntansi yang menaikkan laba atau aset.

Misalnya, PT Sarena meminjam uang dari bank sebesar Rp10 miliar. Salah satu syarat pinjaman (debt covenant) adalah: rasio utang terhadap aset tidak boleh melebihi 80%.

Ketika perusahaan mendekati batas 80% tersebut, manajer mulai khawatir pinjaman akan ditarik oleh bank. Maka manajer akan:

  • Memilih metode yang memperbesar nilai aset (misalnya revaluasi aset)
  • Memilih metode yang memperkecil kewajiban di laporan keuangan

Tujuannya adalah agar rasio keuangan tetap aman dan bank tidak menarik pinjaman.

3. Hipotesis Biaya Politik

Ide dasarnya adalah perusahaan besar yang berada di bawah sorotan publik atau pemerintah cenderung memilih metode akuntansi yang menurunkan laba agar tidak menjadi target regulasi atau pajak lebih tinggi.

Misalnya, PT Energi Terbaroekan adalah perusahaan minyak yang labanya sangat besar. Ketika harga BBM naik, masyarakat dan DPR mulai menyoroti keuntungan perusahaan ini.

Untuk menghindari tekanan politik (misalnya kenaikan pajak, intervensi pemerintah, atau tuntutan publik), manajer akan:

  • Memilih metode yang memperkecil laba yang dilaporkan, misalnya menggunakan metode LIFO (yang membuat HPP lebih besar sehingga laba lebih kecil) dibanding FIFO

Tabel Perbedaan Akuntansi Normatif dan Positif

AspekPositifNormatif
Bentuk pernyataanIs (adalah)Should (seharusnya)
Nada pertanyaanDeskriptifPreskriptif
Dasar masalahFaktaNilai/idealisme
Dasar kesimpulanObjektif/empirisSubjektif
Kriteria penerimaanBenar/salahBaik/buruk
Metode pengujianIlmu pengetahuanSeni

Baca Juga: Panduan Belajar Akuntansi Dasar bagi Pemula

Apa Dampak Teori Akuntansi Positif dan Normatif Pada Manajer?

akuntansi normatif dan positif 3

Jawaban pertanyaan ini kami rangkum dari jurnal berjudul “The Managerial Implications of Positive and Normative Accounting Theories” (Kavrar, 2020).

1. Hubungan Teori dengan Keputusan Manajer

Jurnal ini menegaskan bahwa teori bukan sekadar urusan akademisi.

Manajer wajib memahami teori akuntansi karena setiap pilihan metode akuntansi yang mereka buat berdampak langsung pada laporan keuangan dan keputusan para pemangku kepentingan.

2. Kebijakan Akuntansi sebagai Cerminan Perusahaan

Penerapan kebijakan akuntansi yang berbeda dapat menghasilkan pelaporan yang berbeda atas kejadian keuangan yang sama.

Hal ini dapat menyebabkan situasi keuangan dan hasil operasi perusahaan sejenis menjadi sangat berbeda satu sama lain.

Misalnya, dua perusahaan yang sama-sama membeli mesin seharga Rp500 juta bisa melaporkan laba yang sangat berbeda hanya karena memilih metode penyusutan yang berbeda.

Inilah mengapa pemilihan kebijakan akuntansi bukan hal sepele.

3. Perbedaan Sudut Pandang Kedua Teori

Jurnal ini memberikan pembeda yang sangat tajam dan praktis:

Dari sudut pandang manajemen, teori akuntansi positif menjelaskan perilaku aktual, sedangkan teori normatif mendefinisikan perilaku optimal.

Teori NormatifTeori Positif
Menentukan apa yang SEHARUSNYA dilakukan manajerMenjelaskan apa yang SEBENARNYA dilakukan manajer
Contoh: “Bagaimana manajer seharusnya mencatat aset?”Contoh: “Mengapa manajer ini memilih metode FIFO?”
Bersifat preskriptif dan normatifBersifat deskriptif dan prediktif

4. Agency Problem

Posisi pemilik dan manajer di perusahaan biasanya dipegang oleh dua orang yang berbeda, bukan?

Pemilik (principal) mempercayakan perusahaan kepada manajer (agen), dan ia bergantung pada informasi yang ia dapatkan dari manajer.

Namun, manajer yang punya informasi lebih banyak mungkin bertindak untuk kepentingannya sendiri.

Inilah yang disebut dengan konsep Agency Problem atau Teori Agensi yang menyatakan bahwa terdapat biaya transaksi dan informasi yang muncul dari hubungan prinsipal dan agen.

Baca Juga: Akuntansi Keperilakuan: Definisi, Manfaat, Aspek, dan Contohnya

Mana Teori Akuntansi yang Lebih Baik? Positif atau Normatif?

akuntansi normatif dan positif 2

Jawaban singkatnya, tidak ada yang lebih baik. Keduanya unggul di bidangnya masing-masing dan saling melengkapi.

Selain itu, menurut peneliti dari jurnal tersebut, teori terbaik adalah yang mengintegrasikan keduanya.

Tapi, mengapa begitu?

Teori positif sering dianggap lebih unggul karena berbasis bukti empiris, menjelaskan realita, dan mendominasi penelitian modern.

Namun kenyataannya, teori normatif tetap dibutuhkan. Teori normatif menjadi dasar standar akuntansi seperti PSAK, IFRS, dan GAAP. Tanpa teori normatif, tidak ada standar yang bisa dijadikan acuan.

Ilustrasi kasus

Misalnya, ada kasus di mana sebuah perusahaan sedang mengalami defisit, tetapi manajer tetap melaporkan laba positif dengan memanipulasi metode akuntansi.

Dari perspektif teori positif:
Ini terjadi karena manajer memiliki bonus plan yang terikat pada laba. Sesuai hipotesis bonus, manajer bertindak rasional untuk memaksimalkan kesejahteraannya sendiri. Ini bisa diprediksi dan dijelaskan.”

Dari perspektif teori normatif:
Ini salah. Laporan keuangan harus disajikan secara jujur dan wajar. Manipulasi metode akuntansi melanggar prinsip kejujuran dan merugikan investor.

Jadi, teori positif berhasil menjelaskan penyebab situasi ini, sementara teori normatif berhasil menilai bahwa ini hal yang tidak boleh terjadi dan memberikan standar yang benar.

Baca Juga: Mengenal Konservatisme dalam Akuntansi Beserta Contohnya

Kesimpulan

Teori akuntansi normatif mengajarkan kita tentang “apa yang seharusnya“, yaitu standar, prinsip, dan etika yang menjadi fondasi praktik akuntansi yang jujur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara teori akuntansi positif mengajarkan kita tentang “apa yang sesungguhnya terjadi“, yaitu menjelaskan dan memprediksi perilaku nyata para pelaku akuntansi di dunia bisnis.

Kedua teori ini menjadikan akuntansi sebagai instrumen yang dapat dipercaya dalam pengambilan keputusan bisnis.

Di era digital seperti sekarang, implementasi kedua teori tersebut tercermin dalam teknologi seperti software akuntansi yang mengerjakan tugas akuntansi berdasarkan standar normatif, tapi juga menyediakan data empiris untuk mendukung analisis berdasar teori positif.

Software akuntansi Kledo membawakan fitur laporan keuangan yang dapat dipercaya oleh semua orang serta menampilkan data untuk pengambilan keputusan yang baik.

Gunakan Kledo untuk pengelolaan keuangan yang lebih baik dan sehat. Coba gratis lewat tautan ini.

salsabilanisa

Tinggalkan Komentar

11 + ten =