Menjalankan bisnis tidak luput dari kegiatan utang piutang. Bisnis membeli peralatan untuk meningkatkan pelayanan pelanggan, menambah stok untuk persiapan hari raya, atau untuk menjangkau pasar baru.
Terkadang, kegiatan di atas mengharuskan Anda untuk berutang dalam jangka pendek, dan memang di bisnis ini hal yang normal.
Namun agar tidak terjebak utang yang menjadi beban, Anda perlu tahu bagaimana cara mengelola utang jangka pendek bisnis Anda.
Artikel ini akan membahas 10 cara mengelola utang jangka pendek bisnis yang bisa Anda terapkan saat ini juga.
Apa Itu Utang Jangka Pendek?
Utang jangka pendek adalah kewajiban utang yang harus bisnis bayar dalam periode 12 bulan ke depan atau dalam satu tahun fiskal berjalan.
Utang jangka pendek juga dikenal sebagai kewajiban lancar. Pos ini dapat ditemukan pada bagian liabilitas dalam neraca perusahaan.
Nilai akun utang jangka pendek sangat penting dalam menilai kinerja suatu perusahaan.
Mudahnya, semakin tinggi rasio utang terhadap ekuitas, maka likuiditas perusahaan semakin mengkhawatirkan.
Utang jangka pendek itu penting karena menunjukkan apakah perusahaan mampu membayar kewajiban dalam waktu dekat.
Kalau jumlah utangnya terlalu besar daripada modal sendiri (ekuitas), itu bisa jadi tanda perusahaan sedang tidak sehat secara keuangan.
Untuk mengecek kemampuan perusahaan dalam membayar utang, digunakan yang namanya quick ratio.
Keterangan:
- Aset lancar = Harta yang cepat menjadi uang (kas, piutang, dll)
- Persediaan = Tidak dihitung karena membutuhkan waktu untuk dijual
- Kewajiban lancar = Utang yang harus segera dibayar
Baca Juga: Mengetahui Apa Itu Hutang Jangka Panjang & Jangka Pendek Pada Bisnis
Mengenal 2 Jenis Utang Bisnis
Kewajiban utang perusahaan umumnya dibagi menjadi dua kategori:
1. Utang Pembiayaan (Financing Debt)
Utang pembiayaan adalah utang yang muncul karena perusahaan meminjam dana untuk mengembangkan bisnisnya.
Contoh:
- Pinjaman besar dari bank
- Penerbitan obligasi untuk membangun pabrik baru
Biasanya, utang jenis ini termasuk utang jangka panjang, karena jumlahnya besar dan tidak mungkin dilunasi dalam waktu satu tahun.
2. Utang Operasional (Operating Debt)
Utang operasional adalah utang yang muncul dari kegiatan bisnis sehari-hari.
Biasanya, utang ini termasuk utang jangka pendek, karena harus dibayar dalam waktu dekat.
Contoh paling umumnya adalah utang usaha (accounts payable), yaitu tagihan ke supplier yang harus segera dibayar.
Baca Juga: Pendanaan Jangka Panjang dan Pendek: Pengertian, Perbedaan, dan Contohnya
Contoh Utang Jangka Pendek

Utang jangka pendek bisa berbentuk berbagai hal berikut:
- Utang Usaha (Accounts Payable): Yaitu semua tagihan dari pembelian secara kredit ke supplier. Misalnya seperti pembelian barang secara grosir namun pembayarannya nanti.
- Pinjaman Jangka Pendek: Yaitu pinjaman dari bank untuk menutup kebutuhan kas sementara. Misalnya, mengambil pinjaman untuk membayar kebutuhan karena perusahaan belum menerima pembayaran dari pelanggan.
- Surat Berharga Komersial: Perusahaan menerbitkan surat utang jangka pendek tanpa jaminan, biasanya jatuh tempo kurang dari 9 bulan.
- Pembayaran Sewa (Lease): Jika perusahaan menyewa aset (bukan membeli), maka pembayaran sewa dalam 12 bulan ke depan termasuk utang jangka pendek
- Pajak yang Harus Dibayar: Semua kewajiban pajak yang harus dibayar dalam tahun berjalan, misalnya seperti pajak penghasilan dan pajak daerah.
- Gaji dan Upah: Gaji karyawan yang masih harus dibayar dalam tahun berjalan juga termasuk utang jangka pendek.
- Dividen Saham: Jika perusahaan sudah mengumumkan dividen tapi belum membayarnya, maka itu termasuk utang jangka pendek.
Baca Juga: Manajemen Utang: Hal Penting yang Harus Diperhatikan Bisnis
Apa Keuntungan dan Kerugian Utang Jangka Pendek?
Sebelum mengambil utang jangka pendek, Anda harus tahu kelebihan dan kekurangannya lebih dulu:
Kelebihan utang jangka pendek
- Persyaratan Lebih Longgar: Pemberi pinjaman jangka pendek biasanya hanya melihat arus kas bisnis saat ini, tanpa meminta riwayat kredit jangka panjang atau agunan yang berat. Hal ini memudahkan bisnis baru atau bisnis dengan skor kredit moderat untuk mendapatkan modal.
- Proses Persetujuan dan Pencairan Cepat: Banyak platform pinjaman digital atau kredit yang bisa mencairkan dana dalam 1-3 hari kerja, jauh lebih cepat daripada pinjaman bank biasa.
- Siklus Pelunasan yang Cepat Karena tenornya singkat (biasanya di bawah 18 bulan), beban utang ini tidak akan menghantui neraca keuangan perusahaan selama bertahun-tahun. Ini membantu menjaga rasio utang jangka panjang tetap rendah.
- Lebih Fleksibel: Berbeda dengan pinjaman investasi besar yang biasanya dipantau ketat penggunaannya, utang jangka pendek sering kali memberikan fleksibilitas lebih bagi pemilik bisnis untuk mengalokasikan dana sesuai kebutuhan operasional yang paling mendesak.
- Membangun Kredit Bisnis Poin Tambahan: Jika dikelola dengan baik, pelunasan utang jangka pendek secara tepat waktu dapat membantu meningkatkan skor kredit bisnis Anda, yang nantinya akan memudahkan Anda mendapatkan pinjaman jangka panjang dengan bunga lebih rendah di masa depan.
Kerugian utang jangka pendek
- Potensi Dampak pada Rasio Likuiditas Poin Tambahan: Peningkatan kewajiban lancar bisa memperburuk current ratio (rasio lancar) perusahaan. Jika tidak diimbangi dengan aset lancar yang kuat, bisnis bisa terlihat kurang sehat di mata investor atau pemasok.
- Suku Bunga yang Lebih Tinggi Sebagai ganti kemudahan dan kecepatan akses ke utang jangka pendek, suku bunga tahunannya biasanya jauh lebih tinggi daripada pinjaman berjangka tradisional atau kredit investasi.
- Risiko Siklus Utang (Debt Trap) Jika bisnis gagal menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi utang dalam waktu singkat, ada risiko “gali lubang tutup lubang”. Bisnis mungkin terpaksa mengambil pinjaman baru hanya untuk melunasi pinjaman lama, yang menciptakan siklus utang yang berbahaya.
- Biaya Kesempatan yang Lebih Tinggi: Bergantung pada utang jangka pendek yang mahal dapat menguras laba bersih. Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk ekspansi justru habis untuk membayar bunga yang tinggi.
- Tekanan Arus Kas Mingguan: Banyak pinjaman jangka pendek mensyaratkan Anda untuk sering membayar, entah dengan frekuensi mingguan atau bahkan harian. Ini bisa menekan manajemen arus kas harian bisnis Anda dibandingkan dengan cicilan bulanan yang stabil.
Baca Juga: Akun Hutang dalam Akuntansi: Pengertian Lengkap dan Jurnalnya
Cara Mengelola Utang Bisnis Jangka Pendek

1. Petakan Seluruh Utang Secara Sistematis
Untuk mengelola utang bisnis Anda, cara pertama adalah membuat daftar semua utang jangka pendek yang mencakup:
- Nama kreditur
- Jumlah pokok
- Bunga/biaya
- Tanggal jatuh tempo
- Konsekuensi keterlambatan
2. Utamakan Berdasarkan Risiko, Bukan Jumlah
Tidak semua utang perlu dilunasi dengan urgensi yang sama. Prioritaskan pembayaran utang berdasarkan:
- Konsekuensi terberat: Misalnya, terlambat membayar utang pajak dan BPJS bisa berujung sanksi hukum
- Bunga tertinggi: Lunasi lebih dulu untuk menekan biaya finansial
- Hubungan strategis: Utang dengan supplier utama sebaiknya segera dilunasi untuk menjaga kepercayaannya
3. Kelola Arus Kas dengan Ketat
Agar bisa segera membayar utang jangka pendek, Anda perlu mengelola arus kas dengan ketat.
Terapkan tips di bawah ini:
- Buat proyeksi arus kas mingguan/bulanan agar Anda tahu kapan ada selisih likuiditas
- Percepat penerimaan piutang. Caranya, tawarkan diskon early payment kepada pelanggan jika perlu
- Tunda pengeluaran yang tidak mendesak untuk menjaga kas tetap cukup saat jatuh tempo utang
- Pisahkan rekening operasional dengan rekening cadangan pembayaran utang
4. Negosiasikan Ulang Syarat dengan Kreditur
Banyak pelaku bisnis tidak menyadari bahwa syarat utang bisa dinegosiasikan. Jika arus kas sedang tertekan, segera komunikasikan ke kreditur sebelum jatuh tempo.
Anda bisa mencoba negosiasi syarat ini:
- Perpanjangan tenor
- Penjadwalan ulang cicilan
- Pengurangan bunga
- Konversi ke utang jangka panjang.
Kreditur umumnya lebih kooperatif dengan debitur yang proaktif dan jujur.
5. Manfaatkan Fasilitas Kredit dengan Tepat
Fasilitas kredit seperti kredit modal kerja atau overdraft akan sangat berguna di saat darurat, tapi tidak dirancang untuk dipakai sesuka hati.
Misalnya bisnis Anda mendapat pesanan besar dari pelanggan bulan ini, tapi pembayaran baru cair 60 hari lagi. Sementara itu, Anda harus membayar pemasok minggu depan.
Di situasi ini, Anda bisa menggunakan kredit modal kerja. Intinya, gunakan utang jangka pendek untuk kebutuhan jangka pendek.
Jika Anda perlu kebutuhan jangka panjang seperti membeli aset, ekspansi, atau investasi, gunakan kredit jangka panjang.
Baca Juga: Jurnal Pembelian Kredit dalam Akuntansi: Contoh Kasusnya
6. Optimalkan Siklus Modal Kerja
Semakin pendek siklus konversi kas (cash conversion cycle), semakin sedikit utang jangka pendek yang Anda butuhkan.
Caranya:
- Kurangi stok persediaan berlebih, terapkan sistem just-in-time jika memungkinkan
- Perketat kebijakan kredit ke pelanggan, tindak lanjuti tagihan piutang yang melewati batas
- Manfaatkan penuh tenor yang diberikan pemasok tanpa melewatinya
7. Jaga Rasio Likuiditas di Level Aman
Pantau dua rasio utama secara rutin:
- Current Ratio (Aset Lancar ÷ Utang Lancar): idealnya di atas 1,5. Artinya untuk setiap Rp1 utang lancar, ada Rp1,5 aset lancar yang bisa mencovernya
- Quick Ratio (Kas + Piutang ÷ Utang Lancar): idealnya di atas 1,0. Rasio lebih konservatif karena tidak menghitung persediaan yang belum tentu cepat cair
Jika rasio ini menurun konsisten, itu sinyal bahaya yang perlu segera ditangani.
8. Bangun Cadangan Dana Darurat Bisnis
Usahakan memiliki kas cadangan setara 1–3 bulan pengeluaran operasional. Dana ini berfungsi sebagai buffer ketika ada pelanggan yang telat membayar atau kondisi pasar tiba-tiba berubah.
Dengan begitu, Anda tidak harus mengorbankan pembayaran utang.
9. Pisahkan Keuangan Pribadi dan Bisnis
Mencampurkan keuangan pribadi dan bisnis membuat pengelolaan utang menjadi tidak terukur dan sulit dilacak.
Cara mengatasinya, buka rekening bisnis terpisah dan terapkan sistem penggajian yang konsisten untuk pemilik.
10. Gunakan Sistem Pencatatan yang Andal
Anda tidak bisa mengelola apa yang tidak Anda ukur. Gunakan software akuntansi untuk mencatat semua kewajiban, mengatur pengingat jatuh tempo, dan menghasilkan laporan arus kas secara otomatis.
Software akuntansi bisa mengurangi risiko lupa bayar yang bisa merusak reputasi kredit bisnis Anda.
Misalnya, Kledo bisa membantu Anda mengelola utang jangka pendek bisnis dengan cara memberikan laporan lengkap atau dalam bentuk dashboard seperti ini:


Anda bisa mencoba Kledo untuk mengelola utang jangka pendek dan jangka panjang Anda dengan klik tautan ini.
Baca Juga: Cara Membuat Laporan Umur Hutang dan Contohnya
Kesimpulan
Mengelola utang bisnis jangka pendek bisa dilakukan dengan cara membayar tagihan tepat waktu serta menjaga kesehatan arus kas agar operasional tetap berjalan lancar.
Utang jangka pendek bisa bermanfaat, asalkan untuk mengatasi kebutuhan jangka pendek juga seperti pembelian stok dan pembayaran supplier.
Tanpa pengelolaan yang tepat, utang jangka pendek bisa menjadi beban yang mengganggu stabilitas keuangan.
Oleh karena itu, penting bagi pelaku bisnis untuk memahami cara mengelola utang secara strategis agar tetap produktif dan tidak merugikan bisnis dalam jangka panjang.
