Menjadi dropshipper adalah salah satu model bisnis populer karena tidak perlu gudang, tidak perlu packing, dan tidak perlu memiliki barangnya sendiri.
Tapi, pembukuan untuk dropshipper sendiri lebih rumit dari model bisnisnya karena setiap transaksi punya efek berantai mulai dari pembayaran dari pelanggan, pembayaran dari supplier, pembayaran ke platform, sampai biaya iklan.
Inilah mengapa dropshipper perlu pembukuan yang akurat, karena ini adalah salah satu cara untuk mengetahui berapa keuntungan yang benar-benar didapatkan dan biaya yang dikeluarkan.
Pelajari cara membuat pembukuan untuk dropshipper di artikel ini, mulai dari apa saja yang perlu dicatat dan contoh laporan keuangannya.
Apa Itu Pembukuan Dropshipper?
Pembukuan untuk dropship adalah proses mencatat, mengelola, dan memantau semua transaksi keuangan terkait bisnis, supaya Anda tahu berapa tepatnya pendapatan, pengeluaran, arus kas, dan profitabilitasnya.
Dengan pembukuan, Anda bisa mengetahui hal-hal berikut:
- Berapa pendapatan yang bisnis Anda hasilkan? (Tidak hanya menghitung jumlah pesanan saja, tapi total pemasukan setelah penyesuaian)
- Berapa yang Anda keluarkan untuk supplier dan iklan? (Dua biaya ini biasanya menentukan apakah bisnis Anda menghasilkan profit)
- Produk apa yang paling menguntungkan? (Karena jika hanya melihat penjualan saja, kita belum tahu margin keuntungannya)
- Apa arus kas bisnis Anda positif? (Mengetahui bagaimana uang masuk dan keluar bisnis, tidak hanya total pendapatan saja)
Dalam akuntansi dropship, pencatatan transaksinya agak spesial karena barang yang terjual tidak pernah Anda miliki secara fisik.
Jadi, ketika pembeli memesan barang dari Anda, pihak ketigalah yang mengirimnya langsung ke pembeli.
Jadi, dalam perspektif akuntansi, inventaris dalam dropship hanya menjadi aset sementara selama transaksi penjualan, dan ini memengaruhi pencatatan transaksi dan penghitungan biaya penjualan.
Selengkapnya tentang pembukuan dan akuntansi dropship akan kami bahas di bagian selanjutnya.
Baca Juga: Panduan Lengkap TikTok Dropshipping untuk Pemula
Apa Saja yang Perlu Dicatat dalam Pembukuan Dropshipper?
Banyak orang menganggap bisnis dropshipping tidak memerlukan pembukuan yang rumit karena tidak menyimpan stok sendiri.
Padahal, justru model bisnis ini memiliki alur transaksi yang cukup kompleks.
Dalam satu transaksi saja, terdapat aliran dana dari pelanggan ke dropshipper, dari dropshipper ke supplier, potongan biaya marketplace atau payment gateway, hingga kemungkinan adanya retur atau refund.
Berikut merupakan transaksi yang harus Anda catat untuk pembukuan dropshipper:
1. Pendapatan penjualan
Hal pertama yang harus Anda catat adalah seluruh pendapatan yang berasal dari penjualan produk. Namun, pendapatan tidak selalu sama dengan jumlah uang yang masuk ke rekening.
Sebagai contoh, seorang pelanggan membeli produk seharga Rp300.000 dan membayar ongkos kirim Rp20.000.
Jika marketplace langsung memotong biaya layanan sebesar Rp10.000, maka pembukuan harus tetap mencatat nilai penjualan sesuai transaksi, kemudian mencatat biaya layanan sebagai beban usaha.
Dengan demikian, laporan keuangan dapat menunjukkan pendapatan dan pengeluaran secara terpisah.
2. Harga Pokok Penjualan (HPP)
Dalam bisnis dropshipping, Anda memang tidak menyimpan barang di gudang sendiri.
Namun, setiap kali terjadi penjualan, Anda tetap membeli produk dari supplier. Nilai pembelian tersebut merupakan harga pokok penjualan (HPP) yang harus dicatat.
Komponen HPP dapat meliputi:
- Harga produk dari supplier
- Ongkos kirim dari supplier apabila ditanggung penjual
- Biaya packing tambahan
- Biaya administrasi supplier
- Biaya impor atau bea masuk jika menggunakan supplier luar negeri
Dengan mencatat komponen-komponen di atas, Anda bisa menghitung margin keuntungan setiap produk.
Misalnya, jika harga jual produk Rp250.000, tapi harga dari supplier Rp180.000 dan ongkos kirimnya Rp15.000, maka HPPnya adalah Rp195.000, dan laba kotor sebelum biaya operasional Rp55.000.
3. Biaya Operasional
Selain biaya pembelian produk, dropshipper juga mengeluarkan berbagai biaya untuk menjalankan bisnis. Seluruh biaya tersebut harus dicatat karena secara langsung mengurangi keuntungan.
Biaya operasional dapat dibagi menjadi dua kelompok:
- Biaya tetap, yaitu biaya yang tidak berubah nilainya berdasarkan permintaan suatu produk. Contohnya biaya langganan platform e-commerce dan gaji karyawan tetap.
- Biaya variabel, yaitu biaya yang meningkat atau menurun tergantung aktivitas Anda. Misalnya, biaya iklan Google, biaya Facebook Ads, serta biaya internet dan komunikasi.
Dengan mencatat biaya operasional secara rinci, Anda dapat mengetahui pos pengeluaran terbesar dan mengevaluasi apakah biaya tersebut memberikan hasil yang sepadan.
4. Potongan marketplace dan payment gateway
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam pembukuan dropshipper adalah menganggap dana yang diterima dari marketplace sebagai pendapatan bersih.
Padahal, sebelum dana dicairkan, marketplace biasanya telah memotong berbagai biaya, seperti:
- komisi penjualan;
- biaya layanan platform;
- biaya administrasi;
- biaya transaksi pembayaran;
- biaya promosi yang ditanggung penjual;
- biaya pencairan dana.
Misalnya, pelanggan membayar Rp500.000, tetapi marketplace hanya mentransfer Rp472.000 karena terdapat berbagai potongan.
Dalam pembukuan, transaksi tersebut sebaiknya dicatat sebagai:
- Pendapatan: Rp500.000
- Beban marketplace: Rp28.000
Cara ini memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai omzet sekaligus biaya penjualan.
Baca Juga: Perbedaan Reseller dan Dropship, Mana yang Lebih Menguntungkan?
5. Piutang Usaha (Accounts Receivable)
Walaupun sebagian besar transaksi dropshipping dibayar secara langsung melalui marketplace, beberapa dropshipper juga melayani penjualan kepada reseller, perusahaan, atau pelanggan tetap dengan sistem pembayaran tempo.
Dalam kondisi tersebut, transaksi harus dicatat sebagai piutang usaha.
Pencatatan piutang membantu memastikan seluruh tagihan dapat ditagih tepat waktu sekaligus menjaga arus kas bisnis tetap sehat.
6. Utang usaha kepada supplier
Tidak semua supplier mengharuskan pembayaran di muka. Beberapa memberikan fasilitas pembayaran dalam jangka waktu tertentu, misalnya 14 atau 30 hari.
Data tersebut membantu Anda mengatur jadwal pembayaran sehingga tidak terlambat membayar supplier, yang dapat memengaruhi hubungan kerja sama maupun kelancaran pengiriman pesanan.
7. Persediaan dan nilai barang
Walaupun dropshipper tidak menyimpan stok secara fisik, sebaiknya tetap lakukan pencatatan persediaan, terutama jika bekerja sama dengan beberapa supplier.
Catat jumlah stok yang tersedia pada supplier, perubahan harga produk, produk yang sering habis, yang sudah tidak dijual lagi, dan supplier yang menyediakan produk tersebut.
Pencatatan ini membantu menghindari penjualan produk yang ternyata sudah habis stok, sekaligus memudahkan perencanaan pembelian dan pemilihan supplier alternatif.
8. Retur, refund, dan pembatalan pesanan
Dalam bisnis dropshipping, tidak semua transaksi berakhir sukses dengan penjualan. Ada kemungkinan pelanggan membatalkan pesanan, mengajukan retur, atau meminta pengembalian dana.
Oleh karena itu, pembukuan harus mencatat nomor pesanan, tanggal retur, alasan retur, nilai refund, pihak yang menanggung biaya retur, dan status penyelesaian.
Data ini berguna untuk mengevaluasi performa supplier. Misalnya, jika tingkat retur tinggi karena produk sering rusak atau tidak sesuai deskripsi, Anda dapat mempertimbangkan untuk mengganti supplier.
Baca Juga: Cara Mencari Supplier Dropship Terbaik
Laporan Keuangan Dropshipper
Secara prinsip, laporan keuangan dropshipper mengikuti standar laporan keuangan bisnis dagang pada umumnya. Namun ada beberapa penyesuaian karena sifat bisnis ini yang tidak memegang stok fisik.
Berikut adalah laporan keuangan yang sebaiknya dimiliki oleh bisnis dropshipper.
1. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi menunjukkan apakah bisnis untung atau rugi dalam periode tertentu (harian, mingguan, bulanan).
Struktur laporan laba rugi dropshipper:
- Pendapatan
- HPP
- Biaya Operasional
- Laba bersih
Karena tidak ada stok, HPP di laporan langsung mencerminkan biaya per transaksi, sehingga tidak ada perhitungan persediaan awal/akhir seperti bisnis ritel.
2. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan bisnis pada suatu tanggal tertentu. Laporan ini menunjukkan apa yang dimiliki bisnis, apa yang menjadi kewajibannya, dan berapa besar modal pemilik.
Secara umum, neraca terdiri dari tiga bagian:
- Aset: Yaitu seluruh sumber daya yang bisnis miliki, seperti kas dan saldo rekening dan piutang dari marketplace
- Liabilitas: Kewajiban yang masih bisnis miliki, seperti utang supplier atau pembayaran iklan.
- Ekuitas: Merupakan akumulasi dari modal awal dan laba/rugi
Baca Juga: Cara Membaca dan Menyiapkan Neraca Keuangan Perusahaan
3. Laporan arus kas
Laporan arus kas menunjukkan pemasukan pengeluaran uang tunai selama periode tertentu. Biasanya, laporan arus kas terbagi menjadi 3 kategori:
| Komponen | Contoh untuk Dropshipper |
| Arus kas operasional | Penerimaan dari marketplace, pembayaran ke supplier |
| Arus kas investasi | Pembelian perangkat |
| Arus kas pendanaan | Modal tambahan seperti pinjaman |
4. Laporan perubahan modal
Laporan ini menunjukkan perubahan nilai modal pemilik selama periode tertentu.
Komponen yang biasanya dicatat meliputi modal awal,
- Modal awal
- Tambahan investasi pemilik
- Laba bersih
- Prive (pengambilan dana oleh pemilik)
- Modal akhir
5. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
Catatan atas laporan keuangan berfungsi memberikan penjelasan yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui angka.
Dalam bisnis dropshipper, CaLK dapat memuat informasi seperti:
- Kebijakan pengakuan pendapatan
- Metode pencatatan transaksi marketplace
- Kebijakan pencatatan refund dan retur
- Penjelasan mengenai utang kepada supplier
- Informasi perpajakan
- Risiko bisnis yang memengaruhi laporan keuangan
Laporan ini biasanya dibutuhkan apabila bisnis telah berkembang dan menyusun laporan keuangan sesuai standar akuntansi.
Laporan Pendukung yang Sebaiknya Dimiliki Dropshipper
Selain laporan keuangan utama, ada beberapa laporan operasional yang sangat membantu dalam mengelola bisnis dropshipping.
– Laporan Penjualan
Laporan ini memberikan informasi lebih rinci mengenai aktivitas penjualan, seperti penjualan berdasarkan produk, marketplace, pelanggan, wilayah, dan periode.
Dengan laporan ini, Anda bisa mengidentifikasi produk terlaris, tren permintaan, dan efektivitas masing-masing kanal penjualan.
– Laporan Harga Pokok Penjualan
Fungsi laporani ni adalah mengetahui produk mana atau platform mana yang paling menguntungkan, bukan hanya dari sisi omzet, tetapi dari sisi margin setelah dikurangi semua biaya terkait.
Misalnya, produk A omzetnya besar di Shopee, tapi margin bersihnya tipis karena biaya iklan tinggi. Sementara itu, produk B omzetnya lebih kecil dari TikTok Shop, tapi marginnya lebih besar.
Baca Juga: Cara Menghitung HPP Bisnis Dagang dan Jasa dengan Cepat dan Mudah
Contoh Laporan Keuangan Dropshipper
Berikut adalah contoh laporan keuangan untuk dropshipper fiktif yang memiliki toko bernama Toko Warsa, yang bergerak di bidang fashion wanita.
Toko tersebut menggunakan platform Shopee dan TikTok Shop. Karena statusnya bukan badan hukum, toko menggunakan pembukuan sederhana.
1. Laporan Laba Rugi
| Keterangan | Jumlah |
|---|---|
| PENDAPATAN | |
| Penjualan kotor (Shopee) | Rp 18.500.000 |
| Penjualan kotor (TikTok Shop) | Rp 11.200.000 |
| Total Penjualan Kotor | Rp 29.700.000 |
| Retur & pembatalan pesanan | (Rp 850.000) |
| Pendapatan Bersih | Rp 28.850.000 |
| HARGA POKOK PENJUALAN (HPP) | |
| Harga beli produk dari supplier | Rp 17.200.000 |
| Ongkos kirim ditanggung dropshipper | Rp 1.450.000 |
| Total HPP | (Rp 18.650.000) |
| LABA KOTOR | Rp 10.200.000 |
| BIAYA OPERASIONAL | |
| Komisi marketplace (Shopee + TikTok) | Rp 2.376.000 |
| Biaya iklan Shopee Ads | Rp 1.200.000 |
| Biaya iklan TikTok Ads | Rp 980.000 |
| Biaya admin & transfer bank | Rp 145.000 |
| Langganan software akuntansi | Rp 99.000 |
| Total Biaya Operasional | (Rp 4.800.000) |
| LABA BERSIH | Rp 5.400.000 |
2. Laporan Arus Kas
| Keterangan | Masuk | Keluar |
|---|---|---|
| AKTIVITAS OPERASIONAL | ||
| Penerimaan dana cair dari Shopee | Rp 16.820.000 | — |
| Penerimaan dana cair dari TikTok Shop | Rp 9.900.000 | — |
| Pembayaran ke supplier | — | Rp 17.200.000 |
| Pembayaran ongkos kirim | — | Rp 1.450.000 |
| Pembayaran biaya iklan | — | Rp 2.180.000 |
| Pembayaran biaya admin & transfer | — | Rp 145.000 |
| Pembayaran langganan software | — | Rp 99.000 |
| Arus Kas Bersih dari Operasional | Rp 5.646.000 | |
| AKTIVITAS INVESTASI | ||
| Pembelian perangkat/perlengkapan | — | — |
| Arus Kas Bersih dari Investasi | Rp 0 | |
| AKTIVITAS PENDANAAN | ||
| Tambahan modal dari pemilik | — | — |
| Arus Kas Bersih dari Pendanaan | Rp 0 | |
| Saldo Kas Awal (1 Juli 2025) | Rp 3.200.000 | |
| Kenaikan Kas Bersih | Rp 5.646.000 | |
| Saldo Kas Akhir (31 Juli 2025) | Rp 8.846.000 |
Penjelasan: Arus kas berbeda dari laba bersih karena tidak semua pendapatan Juli langsung cair. Sebagian dana masih tertahan di platform (piutang marketplace) dan akan cair di bulan berikutnya. Perbedaan ini wajar dan justru penting untuk dipantau.
3. Laporan Neraca
| Keterangan | Jumlah |
|---|---|
| ASET | |
| Aset Lancar | |
| Kas & rekening bank | Rp 8.846.000 |
| Saldo ShopeePay bisnis | Rp 320.000 |
| Piutang marketplace (dana belum cair) | Rp 1.380.000 |
| Total Aset Lancar | Rp 10.546.000 |
| Aset Tetap | |
| Perangkat/perlengkapan | Rp 0 |
| Total Aset Tetap | Rp 0 |
| TOTAL ASET | Rp 10.546.000 |
| LIABILITAS | |
| Utang ke supplier | Rp 0 |
| Utang iklan (belum dibayar) | Rp 0 |
| Total Liabilitas | Rp 0 |
| MODAL PEMILIK | |
| Modal awal | Rp 5.146.000 |
| Laba Juli 2025 | Rp 5.400.000 |
| Total Modal | Rp 10.546.000 |
| TOTAL LIABILITAS + MODAL | Rp 10.546.000 |
Baca Juga: Pengertian Ekuitas dan Pentingnya bagi Bisnis Anda
Kesimpulan
Meskipun model bisnis dropshipping tidak mengharuskan Anda menyimpan stok sendiri, bukan berarti pengelolaan keuangannya menjadi lebih sederhana.
Setiap transaksi penjualan, pembayaran kepada supplier, biaya marketplace, ongkos kirim, hingga retur dan refund tetap perlu dicatat dengan rapi agar Anda dapat mengetahui kondisi keuangan bisnis yang sebenarnya.
Dengan pembukuan dropshipper yang tertata, Anda bisa menghitung laba, mengelola arus kas, dan memenuhi kewajiban perpajakan dengan mudah.
Agar proses pembukuan menjadi lebih praktis, gunakan software akuntansi seperti Kledo yang membantu mengotomatisasi pencatatan transaksi, menyusun laporan keuangan secara real-time, memantau arus kas, mengelola piutang dan utang, hingga menghitung persediaan dan harga pokok penjualan.
Coba Kledo sekarang lewat tautan ini.
- Cara Pembukuan Dropshipper yang Benar dan Contohnya - 17 Juli 2026
- Cara Mengelola Banyak Akun Marketplace agar Operasional Efisien - 16 Juli 2026
- Stock Opname Partial: Tips, Metode, & Download Checklist - 16 Juli 2026
